Advertisement
Advertisement

Puasa Komentar ala Rasulullah

Mohammad Saifulloh , Jurnalis-Rabu, 19 Juli 2017 |18:33 WIB
Puasa Komentar ala Rasulullah
A
A
A

Di tengah merajalelanya hoax dan bully, kisah Rasul ini dapat kita teladani. Puasa untuk tidak berkomentar asal-asalan diajarkan oleh Nabi kita.

Di tengah Gelombang kontroversi negeri ini, puasa Komentar ini penting. Begini ceritanya, kita pasti tahu dengan kasus difitnahnya Aisyah Istri Rasul dalam isu selingkuh dengan sahabat Shafwan Bin Mu’aththol Al Sulami. Fitnah ini disebarkan dedengkot kaum munafik, Abdullah Bin Ubay Bin Salul.

Uniknya, Rasulullah sebagai pemimpin besar tidak membuat komentar macam-macam dalam menyikapi masalah ini. Rasul justru membangun musyawarah dengan meminta pendapat para sahabatnya di antaranya Ali Bin Abi Thalib dan Usamah Bin Zaid.

Usamah Bin Zaid menjawab “Aisyah adalah istrimu dan kami tidak mengetahui kecuali yang baik-baik saja dari beliau”. Sementara Sayyidina Ali Bin Abi Thalib memberi usul menarik secara psikologi sosial. Ali menyarankan Rasul agar meneliti sejarah kondisi kejiwaan dan mental Aisyah dengan cara menanyai Bariroh, pelayan Rasul, bagaimana sebenarnya kepribadian Aisyah itu.

Ternyata Bariroh menjawab bahwa Aisyah tak memiliki kelainan Jiwa sama sekali termasuk indikasi perbuatan serong. Kesalahan Aisyah menurut Bariroh yang pernah diketahuinya hanyalah satu yaitu Aisyah tertidur ketika menunggu adonan gandum sehingga adonan gandum itu dimakan kambing.

Cara Rasul ini begitu bijak, Rasul tak mengomentari isu yang dilemparkan kaum munafik namun menerapkan cara istimewa yang spesial, sosial historis dan berdimensi stabilitas politik. Inilah puasa bicara ala Rasul, puasa komentar yang menarik.

Perlu diketahui bahwa dalam kasus ini, wahyu tak turun selama sebulan kepada Rasul. Rasul dan juga Sayyidina Abu Bakar tak langsung menyangkal berita bohong itu, padahal rasul dan Sayyidina Abu Bakar jelas mengerti betul watak Aisyah Ummul Mukminin dan Sahabat Sofwan yang ikut dalam perang Badar. Baik Aisyah maupun Shofwan merupakan dua tokoh yang terkenal kredibilitas kebaikan, kejujuran dan kesalehannya.

Ternyata, tidak berkomentarnya Rasul ke hadapan publik dalam kasus fitnah selingkuh Aisyah dan Shofwan memiliki manfaat sosial lain yang multi dimensi. Kasus ini menguji secara faktual mentalitas dan spiritual para sahabat dan keluarga Rasul. Beberapa sahabat memang termakan isu perselingkuhan ini di antaranya penyair Hasan Bin Tsabit, Misthoh Bin Utsaatsah dan ipar Rasulullah, Himnah Binti Jahsyin. Himnah Binti Jahsyin adalah saudari Zainab Binti Jahsyin, salah satu istri Rasul yang lain. Himnah ikut menyebarkan gossip ini.

Namun tidak dengan Zainab Binti Jahsyin, saudari Himnah. Zainab adalah salah satu istri nabi yang termasuk paling rajin dalam mencari perhatian nabi atau secara sederhana Zainab adalah saingan Aisyah di sisi Rasul.

Tapi uniknya, Zainab justru mengatakan bahwa Aisyah adalah perempuan baik-baik. suatu hal yang patut ditiru bagi wanita-wanita yang menjadi istri bagi suami yang berpoligami. Ternyata, pendapat bahwa Aisyah adalah wanita baik-baik bukan hanya diucapkan Zainab melainkan juga istri-istri Nabi yang lain. Para Istri nabi kompak mengatakan bahwa Aisyah merupakan wanita baik-baik. 

Isu selingkuh ini juga memperkuat dan melatih kepribadian Sahabat Abu Bakar As Shiddiq sebagai ayah dari Aisyah. Sayyidina Abu Bakar memiliki seorang kawan yaitu Misthoh Bin Utsaatsah yang rajin diberi sedekah oleh Sayyidina Abu Bakar RA. Namun, meskipun Misthoh terlibat penyebarluasan gossip selingkuh Aisyah-Shofwan ini, Sayyidina Abu Bakar tetap tak memusuhi Misthoh.

Sayyidina Abu Bakar tetap memberi Misthoh sedekah dan tetap pula menjaga persaudaraan dengan Misthoh. Sikap yang sama ditunjukkan Aisyah terhadap Sahabat Hasan Bin Tsabit. Meski Hasan Bin Tsabit termakan gossip miring ini, Aisyah tetap mendoakannya masuk surga berkat syair-syair Hasan Bin Tsabit.

Finalnya, persoalan ini diselesaikan dengan turunnya Wahyu Surat An Nur ayat 11-18. Pelajaran sosiologi kejiwaan penting didapatkan dari An Nur ayat 12 yang berbunyi “Laulaa idz sami’tumuuhu dhannal mu’minuuna wal mu’minaatu Bianfusihim Khoiron Wa Qooluu Hadza Ifkun Mubin” (Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata).

Menurut Abul A’la Al Maududi dalam karyanya tafsir An Nur, makna Bianfusihim pada ayat di atas memiliki dua makna. Pertama, bahwa jika seorang muslim mendengar sebuah berita bohong maka cocokkan dengan diri kalian masing-masing.

Jika kalian secara pribadi tak pantas melakukan perbuatan tercela itu, maka apakah pantas perbuatan tercela itu dilakukan Aisyah sebagai Ummul Mukminin. Makna ini terlihat dalam dialog Sahabat Abu Ayyub Al Anshari dengan istrinya ketika membahas gosip selingkuh ini. Istri Abu Ayyub menjawab “Aisyah jauh lebih baik dariku dan Shofwan lebih baik darimu”, sebuah terma psikososial yang menarik.

Makna kedua terletak pada makna Bianfusihim yang memiliki jangkauan moral agar kaum muslim harus selalu berbaik sangka kepada semua umat Islam lainnya. Ini pelajaran moral yang diajarkan nabi mana saja sejak dahulu. Adanya prasangka baik menyebabkan kuat dan eratnya persaudaraan dan berkurangnya permusuhan.

Luar biasa ayat di atas. Ayat di atas mengajarkan kita untuk mengukur diri sendiri sebelum mengukur diri orang lain. Menyibukkan diri sendiri daripada sibuk mengurus orang lain. Ayat di atas merupakan sebuah terma sosial menarik bahwa masyarakat yang baik pasti akan memiliki pemimpin yang baik. Jika masyarakat sahabat zaman Nabi terdiri dari pribadi-pribadi baik, maka otomatis pemimpinnya seperti Nabi dan Aisyah sebagai pemimpin wanita mukmin jelas lebih baik kualitas akhlak dan kepribadiannya.

Inilah pemikiran dan aksi sosiologi Islam yang menarik, bahwa jika kita ingin memiliki pemimpin baik yang pertama dilakukan adalah menciptakan masyarakat baik. Tidak seperti saat sekarang, dimana banyak diantara kita sibuk mengkritik para pemimpin tapi tak mengoreksi diri sendiri. Jika ingin berkomentar, berkomentarlah yang positif. 

Puasa komentar Rasul memiliki makna mendalam. Di tengah gelombang kontroversi negeri ini. Puasa komentar ini wajib kita terapkan untuk mendinginkan suasana. Janganlah kita hidup dari komentar-komentar miring karena di negeri ini diakui atau tidak terdapat orang-orang yang hidup dari komentar, kritik dan cacian dan mereka dibayar untuk itu.

Hoax dan kabar dusta harus disikapi dengan akhlaqul karimah dan musyawarah. Musyawarah akan menjaga muslim tetap dalam koridor jamaah (kebersamaan).

Oleh: Syarif Hidayat Santoso

Penulis adalah Orang Madura.

(Muhammad Saifullah )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement