AKTRIS cantik Dian Sastro baru-baru ini mengunjungi Sumba di Nusa Tenggara Timur selama beberapa hari. Meski kedatangannya untuk melakukan pemotretan, rupanya ia juga belajar tentang budaya Sumba.
Dalam akun Instagram-nya, Dian mengaku senang karena telah diperbolehkan ikut menari dalam upacara tradisional yang disebut Padoa. Seperti apa Tari Padoa yang ia pelajari?
Tari Padoa merupakan tarian tradisional khas Suku Sabu di Waingapu. Tarian ini dilakukan secara massal dengan formasi melingkar. Mereka menggunakan pakaian adat dan di kaki penarinya diberi wadah berupa anyaman. Dari informasi yang Okezone rangkum dari berbagai sumber, biasanya wadah tersebut diisi dengan hasil panen di kebun seperti kacang hijau.
Selain sebagai pelengkap tari tradisional, ternyata meletakkan kacang hijau di wadah anyaman juga memiliki maksud lain. Dipercaya apabila biji kacang hijau masih utuh setelah dibawa menari, artinya biji tersebut memiliki kualitas yang baik untuk ditanam di musim berikutnya.
Tari Padoha dahulu dilakukan di penghujung musim hujan dan setiap malam bulan purnama. Baik laki-laki dan perempuan berpartisipasi dalam tarian ini.
Tari Padoa juga diiringi dengan nyanyian khas Suku Sabu. Suara musiknya bukan berasal dari alat musik, melainkan dari suara biji kacang hijau di wadah anyaman yang diletakkan di kaki.
Mereka akan menggerakkan kaki dengan langkah dan ritme yang rapi. Sehingga menghasilkan suara musik yang serempak.
Seperti tarian dalam pesta panen pada umumnya, Tari Padoa juga dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan. Tak hanya itu, dengan dilakukan secara massal, Tari Padoa juga menjadi salah satu acara untuk mempererat kebersamaan Suku Sabu.
(Vien Dimyati)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.