KOMPLIKASI penyakit diabetes dapat berujung fatal, salah satunya pada organ penglihatan yang dikenal dengan diabetic retinopathy. Kondisi ini dapat mengancam kebutaan.
Pasien diabetes yang mengeluh penglihatannya terganggu sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter, mengingat diabetes merupakan penyakit yang rentan terkena komplikasi.
Salah satu komplikasi yang acap kali menyerang diabetesi adalah gangguan pada mata yang bahkan diderita hingga 30% pasien. Hal ini diungkapkan dr Referano Agustiawan SpM(K), Direktur Medik Jakarta Eye Center (JEC) @ Kedoya. Menurutnya, seseorang yang didiagnosis diabetes juga perlu memeriksakan matanya karena pasien berisiko menderita diabetic retinopathy (DR).
Jika masih terbilang ringan, gangguan ini tidak akan menimbulkan keluhan pada penderitanya. “Gejala awalnya tidak ada. Gejala ringan akan timbulfloaters , seperti bintik hitam. Ini kalau dibiarkan terus akan benar-benar gelap,” kata dr Referano dalam Diskusi Media Pengenalan JEC Diabetes Educational and Care, Pusat Layanan Diabetes yang Komprehensif.
Guna menghindari ancaman kebutaan, perlu upaya intervensi segera. Cara terbaik mencegah komplikasi adalah dengan mengontrol gula darah, tekanan darah, dan kadar kolesterol. Caranya dengan mengatur pola makan yang sehat, berolahraga teratur, dan tidak kalah penting rutin mengonsumsi obat ataupun insulin.
Retina merupakan bagian terpenting pada mata yang sarat pembuluh darah. Kadar gula yang tinggi mengakibatkan kerusakan pada pembuluh darah retina, khususnya pada jaringan yang sensitif terhadap cahaya. Kondisi ini dapat menyerang pasien diabetes tipe 1 maupun 2, terlebih yang gula darahnya tidak terkontrol dan telah menderita diabetes dalam jangka waktu lama.
Angka kejadian DR tergantung pada lamanya menderita diabetes. Apabila sudah 10 tahun mengalami diabetes, misalnya, dr Referano mengatakan, kemungkinan 50%-nya menderita DR. Ada dua jenis DR, yaitu non-proliferative diabetic retinopathy (NPDR) dan proliferative diabetic retinopathy (PDR). NPDR merupakan bentuk awal dari retinopati diabetik.
Dimulai dari terjadinya kebocoran pada pembuluh darah retina halus sehingga retina membengkak dan akhirnya membentuk deposit yang disebut eksudat. Penderita NPDR skala ringan boleh dibilang cukup banyak. Walau lazimnya tidak mengakibatkan gangguan penglihatan, jika terjadi pembengkakan (edema ) pada pusat retina, harus ditangani segera karena bisa mengganggu penglihatan.
Nah, PDR sendiri merupakan lanjutan dari NPDR, yaitu ketika terjadi pertumbuhan pembuluh darah baru (neovaskularisasi ) yang abnormal pada permukaan retina dan saraf optik. Komplikasi PDR inilah yang dapat mengancam kebutaan. Sebut saja pendarahan vitreus, di mana pembuluh darah baru cenderung rapuh, mudah robek, dan bisa mengakibatkan pendarahan ke vitreus (bahan gel bening yang mengisi bola mata).
Banyaknya pendarahan dapat membuat hilangnya penglihatan secara total. Sering kali pertumbuhan pembuluh darah baru ini disertai pembentukan jaringan parut yang mengerut sehingga menarik retina dan mengakibatkan lepasnya retina atau disebut ablasi retina traksional. “Kondisi ini dapat menyebabkan kebutaan pada pasien,” beber dr Referano.
Guna mengetahui kondisi penglihatan pasien yang mengaku mengalami keluhan, pemeriksaan mata untuk menegakkan diagnosis pun perlu dilakukan. Untuk itu, mata pasien akan ditetesi obat untuk melebarkan pupil sehingga dokter dapat melihat ke bola mata untuk mengamati retina, vitreus, termasuk saraf optik.
Bila ditemukan gangguan DR, pasien akan dibuatkan foto fundus (foto berwarna retina) serta diikuti pemeriksaan fundus fluoreisein angiografi (FFA) dan optical choherence tomography (OCT). Kedua pemeriksaan ini penting untuk menentukan jenis terapi yang diberikan. Bila kasus DR sudah terbilang serius, misalnya terjadi pendarahan vitreus atau ablasi retina traksional, perlu dilakukan tindakan bedah mikro, yaitu vitrektomi.
“Tujuannya mengeluarkan vitreus dari bola mata. Jaringan parut dikeluarkan dari retina dan retina yang terlepas dapat ditempel kembali ke dinding bola mata,” beber dr Referano. Selain itu, jenis terapi lainnya adalah injeksi obat untuk mencegah radang serta pertumbuhan pembuluh darah baru di bola mata.
Lebih jauh, Spesialis Penyakit Dalam JEC dr Ikhsan Mokoagow SpPD MMedSci yang juga hadir pada kesempatan tersebut mengatakan, diabetes merupakan penyakit yang menyerang pembuluh darah sehingga harus terkontrol. Jika tidak, hal itu berakibat komplikasi baik pada pembuluh darah besar maupun kecil.
Komplikasi yang menyerang pembuluh darah besar menyebabkan gangguan kardiovaskular, otak, jantung, dan kaki. “Kalau menyerang otak bisa stroke, (serang) jantung sebabkan penyakit jantung koroner, dan (serang) kaki sebabkan peripheral disease,” ungkap dr Ikhsan. Sedangkan, gangguan penglihatan, saraf, dan ginjal sebagai akibat serangan pada pembuluh darah kecil.
(Muhammad Saifullah )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.