Advertisement
Advertisement

Mudah Marah karena Lapar? Pakar Ungkap Penyebabnya

Agregasi Grivy.com , Jurnalis-Selasa, 04 Juli 2017 |15:38 WIB
Mudah Marah karena Lapar? Pakar Ungkap Penyebabnya
Ilustrasi (Foto: Google)
A
A
A

Ada hubungan yang erat antara otak dan perut. Rasa cemas akibat lapar, misalnya, muncul karena rangsangan otak ditanggapi oleh hormon pengendali nafsu dalam perut. Selain itu, seluruh karbohidrat, lemak, dan protein dalam asupan makanan akan dicerna menjadi gula sederhana (glukosa, asam amino, serta asam lemak bebas). Nutrisi ini, akan masuk ke dalam aliran darah hingga akhirnya didistribusikan ke organ serta jaringan tubuh, dan digunakan sebagai energi.

Semakin lama, jumlah nutrisi ini akan menurun. Rendahnya kadar gula darah, lantas akan dianggap sebagai "ancaman" oleh otak. Apalagi, untuk bisa melakukan tugasnya dengan optimal, otak sangat membutuhkan glukosa. Tidak heran, jika rasa lapar kerap berdampak pada kurangnya konsentrasi hingga produktivitas.

Satu dampak yang paling kentara, yakni kurangnya kontrol pada gejala amarah. Pada akhirnya, "serangan" lapar akan memicu pelepasan hormon serotonin (hormon stres), yang mengakibatkan Anda sulit mengontrol emosi dan rasa marah.

Atasi Sejak Awal

Makanlah sebelum Anda merasa terlalu lapar. Jika telanjur, Anda disarankan untuk menghindari konsumsi fast food. Bagaimanapun, jenis makanan tersebut akan terproses sangat cepat dan justru membuat Anda semakin hangry. Sebaliknya, Anda bisa memilih makanan kaya nutrisi untuk meredakan rasa lapar, membuat kenyang lebih lama, tanpa harus menumpuk kalori. Nah, untuk menstabilkan gula darah, ada baiknya mengonsumsi kacang-kacangan, alpukat, yoghurt, telur, dan keju. Demikian ditulis situs Grivy.

(Tuty Ocktaviany)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement