Dewasa ini, aroma cengkeh tercium di pulau ini selama masa panen. Anak-anak kecil dengan baju kaus sepak bola menunggu di pinggir jalan untuk mendampingi turis ke pohon yang menjulang dan mereka klaim paling tua di dunia.
Pertama Belanda dan kemudian Inggris yang melanggar monopoli cengkeh. Pada 1858, pulau itu telah menarik navigator yang menjadi pembajak Francis Drake dan petualang Ferdinand Magellan.
Wallace memilih rumah yang dikelilingi pohon buah, lima menit dari pasar, di tempat yang kini dikenal dengan kota Ternate. Para pemandu wisata mengantar ke rumah-rumah yang berbeda dan disebutkan sebagai tempat Wallace tinggal, namun jelas bekas rumahnya sudah lama tak ada.
"Pernah ada dua jalan, berdasarkan informasi yang ia berikan kepada kami," kata pakar tentang Wallace, John Van Wyhe dari National University of Singapore.
Wallace belum sempat pindah ke rumah dengan sumur berair bening saat ia jatuh sakit, kemungkinan karena malaria. Keringat dingin serta kejang, Wallace terpaksa berbaring selama berjam-jam tanpa bisa berbuat apa-apa kecuali berpikir.
Jauh dari rumah, kedinginan karena sakit, di tengah bayang gunung api, kemungkinan ia ketakutan. Pikiran Wallace beralih ke Thomas Malthus, intelektual yang berargumen bahwa alam membuat populasi manusia menurun karena penyakit, kelaparan, perang dan kecelakaan.
Ia juga menyadari bahwa logika yang sama juga terjadi pada binatang. Dalam perjalanannya ke berbagai tempat yang sekarang menjadi Indonesia, Wallace telah melihat berbagai makhluk.