Advertisement
Advertisement

Anak Gemuk Tidak Lucu, Waspadai Obesitas Usia Dini!

Helmi Ade Saputra , Jurnalis-Sabtu, 06 Mei 2017 |09:00 WIB
Anak Gemuk Tidak Lucu, Waspadai Obesitas Usia Dini!
Ilustrasi (Foto: Usnews)
A
A
A

OBESITAS di Indonesia sudah menjadi permasalahan yang serius. Bahkan, saat ini tingkat obesitas di Indonesia berada pada urutan 10 dunia.

Komplikasi penyakit akibat obesitas di antaranya, penyakit jantung, diabetes melitus, dislipidemia, gangguan pernapasan pada saat tidur, kanker dan penyakit kardiovaskular utama lainnya. Apabila tidak mendapatkan intervensi atau penanganan medis yang tepat, maka obesitas dapat meningkatkan risiko komplikasi penyakit di atas, bahkan kematian.

Bahayanya lagi, saat ini obesitas di Indonesia juga telah melanda anak sejak usia dini. Riset kesehatan dasar (Riskesdas) tahun 2013 menunjukkan, sebanyak 18,8 persen anak usia 5-12 tahun mengalami kelebihan berat badan dan 10,8 persen menderita obesitas.

Pada anak, dampak obesitas bisa sangat buruk bagi tumbuh kembang mereka. Hal itu disampaikan oleh dokter spesialis anak. Dr Marlyn C Malonda, Sp.A.

"Obesitas memberikan dampak buruk terhadap tumbuh kembang anak terutama dalam aspek organik dan psikososial. Obesitas pada anak berisiko tinggi pada obesitas di masa dewasanya nanti," ujar dr Marlyn di Rumah Sakit OMNI Alam Sutera, Tangerang Selatan, belum lama ini.

"Pada 2020 (diperkirakan) bisa terjadi peningkatan sebesar 9,1 persen atau sekira 60 juta populasi anak di dunia mengalami obesitas," tambahnya.

Selain itu, ragam penyakit juga akan mengancam anak obesitas di masa dewasanya nanti. Dr Marilyn menyebutkan beberapa di antaranya adalah peningkatan tekanan darah, aterosklerosis atau kekakuan pada pembuluh darah, adanya pembesaran pada ventrikel kiri atau pembesaran jantung, bisa juga disertai sumbatan jalan napas pada saat tidur atau sleep apnea, asma, gangguan psikosial, sindrom polikistik ovarium.

Adapun gangguan lainnya yang disebutkan, seperti diabetes melitus tipe 2, perlemakkan hati, abnormalitas kolesterol darah meningkat, sehingga menyebabkan sindrom metabolik, dan gangguan tulang.

Karena itu, orangtua perlu lebih aware terhadap permasalahan obesitas pada anak. Salah satunya dengan mengetahui tanda-tanda anak mengalami obesitas seperti berikut ini:

Kepala

Secara umum, wajahnya bulat dan pipinya tembem, chubby. Kemudian dagunya double chin, seperti ada dua dagu karena adanya timbunan lemak.

Leher

Umumnya, anak obesitas sudah dapat diketahui dari profil wajahnya. Jarak antara kepala dan leher terlihat pendek, sehingga ruas lehernya tidak terlihat.

Dada

"Dadanya membusung dengan payudara yang membesar. Kalau anak cowok gemuk dan payudaranya membesar, mungkin ia akan merasa risih dengan teman-teman di sekolahnya atau mungkin pada usia dewasa," tutur dr Marlyn.

Lipatan perut

Anak obesitas cenderung memiliki lipatan perut yang banyak. Dr Marlyn mengatakan kebiasaan orang berpikir, anak yang perutnya besar terlihat lucu, padahal ia amat tidak sehat.

Ekstremitas

"Ekstremitas, jadi dia harus menahan bobot tubuhnya, sedangkan kekuatan tulangnya tidak sesuai dengan bobot tubuhnya. Sehingga saat berjalan ia membentuk huruf "x"," tambahnya.

Genitalia

Tidak memengaruhi profil wajah atau tubuh anak, obesitas juga memengaruhi ukuran Mr P anak yang tampak kecil. Bahkan, masa depan anak tergantung bagaimana ia berpola hidup di antara pada masa anak dan remaja.

Indeks massa tubuh

Bila indeks massa tubuh anak menurut CDC 2002, anak yang berusia 2-18 tahun dengan indeks massa tubuh lebih dari P95, sudah dianggap obesitas.

Penanganan obesitas

Obesitas harus ditangani dengan tepat untuk menghindarkan anak dari berbagai penyakit hingga dewasa nanti. Penanganan obesitas pada anak dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain penanganan perilaku berbasis keluarga dalam hal makan, mengurangi lemak dan diet, modifikasi gaya hidup, aktivitas fisik, konsumsi obat yang diresepkan oleh dokter, dan terakhir adalah operasi atau pembedahan pada kasus obesitas yang ekstrim.

"Tindakan operasi hanya disarankan jika pengoban lain gagal, dan jika anak telah melalui pubertas, atau dia sangat gemuk da memiliki masalah kesehatan lainnya. Operasi harus dimulai dengan mempelajari riwayat kesehatan sang anak," jelas Dr Marlyn.

Bedah Bariatrik merupakan teknik operasi pengecilan dan bypass lambung yang bertujuan untuk menurunkan berat badan dalam mengatasi obesitas. Di negara maju, bedah bariatrik sudah umum dilaksanakan karena terbukti efektif menurunkan berat badan yang dapat bertahan dalam jangka panjang.

Metode bedah Bariatrik dilakukan dengan teknik laparoskopi atau minimal invasif, yaitu operasi dilakukan melalui lubang sayatan kecil berukuran 1 cm sebanyak 3-4 buah. Keuntungannya adalah rasa nyeri sangat berkurang, dan bekas luka sayatan sangat kecil, sehingga bekas operasi hampir tidak terlihat.

"Perubahan bentuk lambung, berkurangnya asupan dan penyerapan makanan serta peningkatan hormon inkretin menyebabkan gula darah terkontrol pasca operasi. Setelah operasi, tubuh pasien akan memberi respon positif dan efisien dalam mengatur pola keseimbangan kadar gula darah," papar dokter spesialis bedah, Dr Handy Wing, Sp.B, FBMS, FINACS, FICS.

Kriteria pasien untuk melakukan operasi penurunan berat badan adalah dengan memakai tolak ukur, indeks massa tubuh (IMT) lebih dari 35. IMT lebih dari 35 mengindikasikan kelebihan 45 kg di atas berat badan ideal untuk pria atau kelebihan 36 kg di atas berat badan ideal untuk wanita.

Jadi, seseorang dengan IMT lebih dari 35, apalagi disertai berbagai masalah kesehatan, seperti diabetes, tekanan darah tinggi, gangguan napas dan penyakit kardiovaskular merupakan kandidat ideal untuk operasi ini.

Tapi, tidak semua penyandang obesitas dengan diabetes dianjurkan menjalani operasi bariatrik. Kandidat ideal adalah pasien di bawah 60 tahun, dengan kondisi belum terlalu lama menderita diabetes, serta memiliki fungsi pankreas yang cukup baik.

(Helmi Ade Saputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement