NAMA hipertensi paru atau hipertensi pulmonal memang tidak seakrab nama hipertensi (tekanan darah tinggi) yang biasa didengar oleh telinga masyarakat Indonesia. Namun, siapa sangka kalau penyakit yang menyerang paru-paru ini telah menembus angka 70 persen kasus, menurut data Yayasan Hipertensi Paru Indonesia (YHPI).
Masyarakat seringkali menganggap sesak yang merupakan gejala awal hipertensi paru, sebagai sesak nafas biasa dan mudah disembuhkan dengan obat dokter atau apotek. Namun, dalam kasus hipertensi paru, nyatanya ditandai dengan sesak yang kerap terjadi dan pasien akan mudah lelah atau capek.
Setiap penyakit hampir semuanya dapat diketahui penyebabnya. Begitupula dengan hipertensi paru. Adapun penyebab dari hipertensi paru, dapat dibagi menjadi dua yaitu:
1. Faktor primer
Faktor primer ialah faktor yang belum diketahui penyebabnya. Pasien bisa tiba-tiba sesak, kemudian gagal jantung dan akhirnya tutup usia. Untuk itu pula hipertensi paru disebut the invisible illness, karena tidak memiliki gejala yang khas untuk menandakan kehadirannya.
2. Faktor Sekunder
Faktor sekunder adalah faktor yang disebabkan oleh penyakit lainnya. Penyakit-penyakit yang dapat mengundang datangnya hipertensi paru ialah penyakit jantung bawaan (PJB), pembekuan darah (emboli), penyakit paru kronis, autoimune, riwayat keluarga, penggunaan zat terlarang dan penggunaan obat-obat diet tertentu.
Pasien dengan penyakit jantung bawaan (PJB) di Indonesia memperlihatkan, sebanyak 70 persen kasus yang menyebabkan hipertensi paru karena belum sempat terdiagnosa. Padahal, jika sejak awal ketika bayi atau anak-anak sudah dideteksi, hipertensi paru seharusnya tidak terjadi dan bisa dicegah.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.