Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Napak Tilas Perjuangan Kartini dari Kamar Pengabdian hingga Sekolah

Tentry Yudvi , Jurnalis-Jum'at, 21 April 2017 |11:11 WIB
Napak Tilas Perjuangan Kartini dari Kamar Pengabdian hingga Sekolah
Museum Kartini (foto: Instagram/@dee_rozak)
A
A
A

Dalam tulisan-tulisan yang dikirimkannya ia pun memberikan wawasan luas mengenai kebudayaan dan ilmu pengetahuannya yang sudah dibaca melalui buku-buku dan surat kabar dari Eropa.

Hingga dewasa, Kartini pun sudah menuntaskan buku berbahasa Belanda di antaranya De Stille Kraacht milik Louis Coperus, Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta yang ditulis Multatuli, Van Eeden, roman-feminis oleh Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek, dan Die Waffen Niede roman anti-perang dari Berta Von Suttner.

Dari situlah pemikiran kritis akan kesetaraan hak dan gender semakin maju, dan R. A Kartini pun memimpikan untuk membangun sekolah khusus wanita untuk membuat mereka setara hingga saat ini.

Setelah menikah dengan seorang Bupati Rembang K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, ia pun berhasil mendirikan sekolah dengan ajaran bahasa Belanda. Di sanalah wanita diberikan pendidikan yang layak dan seusai untuk mencerdaskan bangsa.

Bangunan sekolah tersebut pun bisa ditemukan di Jalan Sultan Agung 77 Gajahmungkur, Semarang. Bangunan pun masih berdiri kokoh dan menyimpan banyak sejarh bernuansa tempo doloe.

(Fiddy Anggriawan )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement