Sejak saat itu, Kartini kemudian mengabadikan hidupnya untuk menulis surat kepada korespondensinya yang berasal dari Belanda. Kumpulan surat itu pun kini sudah dijadikan buku legendaris dengan judul l “Habis Gelap, Terbitlah Terang.” Yang ditulis di kamar pribadinya. Kini kamar tersebut pun dijadikan sebuah museum untuk mengenang masa pelik R.A Kartini dengan nama Museum Kamar Pengabdian Kartini Rembang.
Di dalam kamar itulah, banyak perkakas peninggalan Kartini yang bisa Anda lihat dan rasakan. Di mana tinta, hingga koleksi lukisan masih bisa ditemukan di dalamnya. Kasur beliau pun masih tertata rapih, kasur yang tak hanya menjadi tempat tidur beliau saja tetapi juga menjadi sebuah kamar bersalin ketika dirinya melahirkan anak tunggalnya.
Catatan sejarah kisah pelik Kartini pun kembali terputar ketika berada di kamar tersebut. Di sinilah Kartini belajar banyak mengenai dunia setelah ia berkenalan dengan seorang teman asal Belanda bernama Rosa Abendanon yang menjadi sahabat terbaik dan selalu mendukung pergerakan yang dilakukan Kartini.
Masa kecil hingga besarnya, setelah mengenal Rosa, Kartini kemudian membaca banyak koran dan juga buku-buku dari Eropa. Ia pun membaca koran de lokomotief sebuah surat kabar dari Semarang yang di bawah pimpinan Pieter Brooshoof.
Dari sana beliau menunjukan kepintarannya yang tak kalah dengan kaum pria, ia kemudian menulis dan menyumbang tulisan di salah satu majalah wanita De Hollandsche Lelie karena beliau melihat jika perempuan di Eropa sana sudah sangat maju sedangkan di Indonesia, perempuan dianggap paling rendah.