Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Penampakan Tanjakan Cinta Gunung Semeru Tahun 1900-an

Erika Kurnia , Jurnalis-Rabu, 08 Maret 2017 |23:30 WIB
Penampakan Tanjakan Cinta Gunung Semeru Tahun 1900-an
Tanjakan Cinta, Gunung Semeru (foto: Instagram/@empreitz)
A
A
A

TANJAKAN cinta adalah salah satu spot paling populer di Gunung Semeru, Jawa Timur. Daerah ini ternyata pernah didokumentasikan oleh pendaki Belanda sekitar tahun 1900-an dan dideskripsikan dengan sangat menarik.

Seperti dikutip dari akun @GunungIndonesia, Dr Wormser adalah pria berkebangsaan Belanda yang pernah mendaki Gunung Semeru sekitar tahun 1920. Dan dia menggambarkan suasana Danau Ranu Kumbolo dan daerah sekitarnya, termasuk Tanjakan Cinta, lewat tulisan.

#gunungjadul Tanjakan Cinta & Danau Ranu Kumbolo Gunung Semeru sekitar Tahun 1900. - Dr. Womser, seorang pria Eropa berkebangsaan Belanda yang pernah mendaki gunung Semeru sekitar tahun 1920, menggambarkan suasana danau Ranu kumbolo dan daerah sekitarnya lewat tulisan yang dibuatnya berikut ini : - "Telaga birunya terbentang tanpa gerakan. Sekali-sekali seekor itik liar (Belibis) mengusik permukaan airnya yang licin, kalau dia menyelam dalam-dalam dan menghilang. Sampai jauh malam saya melihatnya berenang berkeliaran di telaga, dan sekali-sekali mendengar suaranya mengalun diatas air. Di seberang sana, batang-batang kayu besar telah roboh dan terendam didalam air. Berapa tahun sudah batang-batang ini membusuk di dalam air? Diantara dedaunan hijau yang lebat dari pepohonan yang tumbuh tinggi, yang menutupi lereng-lereng gunung di sekitar sini, angin malam berdesis. Sang Rembulan muncul. Setelah sinar matahari, yang dengan tajam menampakkan bentuk-bentuk dari hutan dan telaganya, sinar rembulan mengaburkan semua keadaan.Sekarang puncak-puncak pepohonan tidak bergerak dan nampak samar-samar dilangit yang cerah. Di atas punggung-punggung gunung kelap-kelip bintang bergelantungan. Di muka air telaga Sang Rembulan mulai memainkan sinar peraknya, menerangi bivak kami. Suatu malam tropik yang tenang mengendap diatas telaga gunung, yang sudah berabad-abad terlindung oleh dinding-dinding gunung, dan jarang sekali terganggu ketenangan tidurnya oleh kegaduhan manusia.” - Sumber foto : Tropenmuseum Belanda #gunungindonesia #semeru

Sebuah kiriman dibagikan oleh GUNUNG INDONESIA (@gunungindonesia) pada Mar 5, 2017 pada 5:47 PST

Kira-kira berikut terjemahan deskripsi Dr Wormser terhadap Danau Ranu Kumbolo.

"Telaga birunya terbentang tanpa gerakan. Sekali-sekali seekor itik liar (belibis) mengusik permukaan airnya yang licin, kalau dia menyelam dalam-dalam dan menghilang. Sampai jauh malam saya melihatnya berenang berkeliaran di telaga, dan sekali-kali mendengar suaranya mengalun di atas air.

 

Di seberang sana, batang-batang kayu besar telah roboh dan terendam didalam air. Berapa tahun sudah batang-batang ini membusuk di dalam air? Di antara dedaunan hijau yang lebat dari pepohonan yang tumbuh tinggi, yang menutupi lereng-lereng gunung di sekitar sini, angin malam berdesis.

 

Sang rembulan muncul. Setelah sinar matahari, yang dengan tajam menampakkan bentuk-bentuk dari hutan dan telaganya, sinar rembulan mengaburkan semua keadaan. Sekarang puncak-puncak pepohonan tidak bergerak dan nampak samar-samar dilangit yang cerah.

 

Di atas punggung-punggung gunung kelap-kelip bintang bergelantungan. Di muka air telaga Sang Rembulan mulai memainkan sinar peraknya, menerangi bivak kami. Suatu malam tropik yang tenang mengendap di atas telaga gunung, yang sudah berabad-abad terlindung oleh dinding-dinding gunung, dan jarang sekali terganggu ketenangan tidurnya oleh kegaduhan manusia."

(Fiddy Anggriawan )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement