Di setiap rumah, atap terbuat dari alang-alang kering yang sudah dikumpulkan di hutan. Kemudian ditumpuk-tumpuk di atas kerangka bambu agar kokoh.
"Mencari alang-alang cukup sulit karena harus menunggu musim kemarau dulu, baru banyak ilalang yang ditemukan," lontarnya.
Sementara untuk lantai, mereka tidak menggunakan ubin keramik. Melainkan menggunakan tanah liat. Sebab, zaman dulu belum ada semen, dan alat modern seperti saat ini. Mereka membersihkan lantai dengan kotoran sapi atau kerbau lho.
"Setiap dua bulan sekali kami membersihkan rumah dengan kotoran sapi dan padi, untuk membuat lantai menjadi licin," jelasnya.