"Anak saya kena talasemia mayor. Ia harus transfusi darah setiap bulannya. Waktu itu anak saya dirujuk ke RSCM dan ditangani oleh para dokter ahli darah," bebernya kepada Okezone belum lama ini.
Rasa putus asa menghinggapi Bunda Watty saat dokter ahli memvonis anaknya hanya bisa bertahan hidup sampai umur 10 tahun. Saat itu, belum ada dokter ahli yang mampu menangani penyakit genetik tersebut.
Untuk mengetahui apa itu talasemia, Bunda Watty kemudian membaca ensiklopedia mengenai penyakit tersebut. Lalu dokter juga menyarankan untuk memeriksa darah dirinya dan suami. Dari hasil laboratorium diketahui, bahwa Bunda Watty dan suami masing-masing memiliki talasemia minor.
"Kesedihan seakan bertubi-tubi menghampiri saya. Saya sampai tanya sama dokter, kok bisa penyakit ini tak ada obatnya," ungkap Bunda Watty menahan tangis.
Penderita talasemia saat itu hanya 50 pasien. Namun makin lama, penderita talasemia semakin meningkat. Jumlahnya kini mencapai 6.700 pasien di Indonesia.