Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement
Perjuangan Penderita Talasemia

KISAH: Pelukan Terakhir, "Mama Ikhlas Kamu Pergi"

Renny Sundayani , Jurnalis-Jum'at, 27 Januari 2017 |06:14 WIB
KISAH: Pelukan Terakhir,
Penderita Thalasemia (Foto: Yayasan Thalesemia Jakarta)
A
A
A

"Anak saya kena talasemia mayor. Ia harus transfusi darah setiap bulannya. Waktu itu anak saya dirujuk ke RSCM dan ditangani oleh para dokter ahli darah," bebernya kepada Okezone belum lama ini.

Rasa putus asa menghinggapi Bunda Watty saat dokter ahli memvonis anaknya hanya bisa bertahan hidup sampai umur 10 tahun. Saat itu, belum ada dokter ahli yang mampu menangani penyakit genetik tersebut.

Untuk mengetahui apa itu talasemia, Bunda Watty kemudian membaca ensiklopedia mengenai penyakit tersebut. Lalu dokter juga menyarankan untuk memeriksa darah dirinya dan suami. Dari hasil laboratorium diketahui, bahwa Bunda Watty dan suami masing-masing memiliki talasemia minor.

"Kesedihan seakan bertubi-tubi menghampiri saya. Saya sampai tanya sama dokter, kok bisa penyakit ini tak ada obatnya," ungkap Bunda Watty menahan tangis.

Penderita talasemia saat itu hanya 50 pasien. Namun makin lama, penderita talasemia semakin meningkat. Jumlahnya kini mencapai 6.700 pasien di Indonesia.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement