“Rencana besar ini akan ditujukan bagi wisatawan yang datang dari Lhasa atau Beijing. Memang ada pasar yang besar untuk wisata petualangan di Negeri Tirai Bambu itu, di mana sejumlah infrastruktur sudah terbangun rapi sebagai pendukungnya. Mulai dari akses kereta api Xining ke Lhasa, hingga jalanan aspal yang tersebar di beberapa kawasan,” tutur Kenton.
Rencananya, resort terbaru ini akan dibangun di ketinggian 5.380 meter. Sehingga dibutuhkan aklimatisasi yang sempurna sebelum dilakukan pembagunan.
Kendati demikian, sejumlah kritik tajam mulai dilayangkan oleh para aktivis lingkungan. Mereka beranggapan bahwa masuknya wisatawan ke wilayah Tibet, justru akan merusak ekosistem dan kearifan lokal penduduk setempat.
Seperti diketahui, dalam beberapa tahun terakhir Pemerintah Tibet sudah melakukan pembatasan kendaraan pribadi di wilayah mereka. Demikian dilansir dari Lonelyplanet, Senin (19/12/2016).
(Fiddy Anggriawan )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.