"Tenun Ende sebenarnya masih punya kekuatan untuk tetap bertahan, karena memang adat yang kuat dan sebagai bahan utama dalam prosesi adat. Misalnya, kalau mau menikah, pihak laki-laki memberikan emas kepada perempuan, kemudian perempuan memberikan kain terbaiknya. Sehari-hari pun masih dipakai untuk ke gereja dan masjid," tutur Bernadetha Maria Sere Ngura Aba, selaku Pemerhati Sosial Ekonomi untuk kain Tenun, yang ditemui usai pembukaan pameran Pesona Kain dan Budaya Ende, di Museum Tekstil, Jakarta.
"Tetapi, dengan perkembangan fesyen yang sangat kuat ditambah kebutuhan pasar, akhirnya dari pengelola tenun mencoba menambahkan jenis pewarnaan, yang mulanya cokelat atau hitam kekuningan menjadi warna cerah, seperti biru indigo atau merah. Kami mencoba meyakinkan tuntutan pasar dengan tidak menghilangkan warna atau motif, tetapi mengikuti keinginan pasar," terangnya.
Meski awalnya dirasa sulit melatih dan mengedukasi para penenun yang dibina oleh Museum Tenun Ikat di Ende, perlahan namun pasti mereka mau mengadopsi hal baru tersebut. Namun, dituturkan Sere, sapaan akrabnya, jika tidak didukung oleh pemerintah maka tenun Ende bisa punah.
Sere berharap agar tenun Ende bisa semakin populer di Tanah Air. Tak terkecuali membutuhkan peran dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, para desainer sampai konsumen.