Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Lima Plengkung Keraton Yogyakarta yang Sarat Sejarah

Agregasi Kedaulatan Rakyat , Jurnalis-Selasa, 15 November 2016 |22:19 WIB
Lima <i>Plengkung</i> Keraton Yogyakarta yang Sarat Sejarah
Plengkung (KRjogja)
A
A
A

YOGYAKARTA – Plengkung atau gerbang menuju kerajaan, penting keberadaannya bagi Keraton Yogyakarta. Dahulu, pintu ini menjadi akses utama masyarakat untuk memasuki Keraton yang dikelilingi tembok benteng besar.

Keraton Yogyakarta memiliki lima plengkung, namun seiring perkembangannya, gerbang ini sekarang tinggal dua saja yang masih utuh, sedangkan tiga lainnya telah berubah dari bentuk aslinya. Walau telah hilang, namun keberadaan bangunan bersejarah tersebut tetap masih bisa terlihat.

Dari kelima plengkung yang ada, Plengkung Nirbaya merupakan bangunan terbesar dan paling utuh yang saat ini masih bisa ditemui. Plengkung ini juga sering disebut sebagai Plengkung Gading.

Berada di sebelah sebelah Selatan Alun-alun Kidul, Nirbaya berasal dari kata ‘Nir’ yang berarti tidak ada dan ‘baya’ berarti bahaya. Jika diterjemahkan dalam bahasa harfiah Jawa maka Nirbaya berarti tidak ada bahaya yang mengancam.

Konon, siapapun Sultan yang tengah bertahta dilarang untuk melintasi Plengkung Nirbaya ini selama hidupnya. Pasalnya, Gerbang Nirbaya dijadikan pintu keluar bagi jenazah Sultan saat hendak dimakamkan menuju ke Imogiri.

Plengkung lainnya, yaitu Plengkung Tarunosuro atau lebih terkenal dengan nama Plengkung Wijilan karena berada di daerah Wijilan, Kelurahan Panembahan, Kecamatan Keraton, Yogyakarta. Plengkung ini terletak di sebelah timur Alun-alun Utara dan menjadi jalur utama lalu-lintas kendaraan.

Dinamakan Tarunosuro karena dulu pintu ini berisikan prajurit-prajurit muda yang menjaganya. Plengkung Tarunosuro masih untuh bangunannya, walau tembok benteng di kiri dan kanannya sudah hilang dan berubah jadi permukiman warga.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement