Sebelumnya, nama Moewardi sudah dikenal masyarakat yang di daerah Tanah Abang, Jakarta. Dia biasa dipanggi dengan sebutan Dokter Moewardi atau Dokter Gembel, karena dokter satu ini senang bergaul dengan gembel daripada orang-orang kaya.
Kala itu, golongan masyarakat miskin sangat butuh bantuan dan pertolongan medis oleh orang-orang seperti Moewardi. Dia pernah mengobati seorang genbel yang tinggal di kampung dengan gang becek dan berlumpur. Meski hanya seorang gembel tapi Moewardi sangat peduli terhadap sesama.
Sejak saat itu, nama Moewardi selalu dikenang setiap tanggal 13 September. Sebab, pada tanggal tersebut tahun 1930, dia mendirikan kepanduan baru di Jakarta sebagai jelmaan dari 3 organisasi kepanduan Indonesia, yakni Pandu Kebangsaan, Pandu Pemuda Sumatra dan Indonesische Nationaal Padvinders Organisatie.
Organisasi tersebutlah yang menjadi cikal bakal Pramuka yang diberi nama Kepanduan Bangsa Indonesia. Kiprahnya dalam melawan penjajah kolonial Belanda dimulai saat menjadi Barisan Pelopor pada 1945 di Surakarta dan terlibat dalam peristiwa proklamasi 17 Agustus 1945.
Menjelang Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Moewardi menjadi Barisan Pelopor untuk menjaga Lapangan Ikada (lapangan Monas) yang rencananya digunakan sebagai tempat pembacaan teks proklamasi. Usai agenda tersebut, barisan pelopor juga dibentuknya untuk menjaga rumah Presiden dan Wakil Presiden Soekarno-Hatta.