"Kita kadang meremehkan, misal diberi obat antibiotik isi 12 tablet yang harus habis dalam tiga atau empat hari, tapi tidak dihabiskan karena merasa sudah sembuh. Itu bisa menyebabkan resistensi antibiotik," katanya.
Akibatnya, jika pasien tersebut sakit yang sama lagi dengan memberian obat yang sama, menjadi tidak sembuh. Dia membutuhkan antibiotik lagi yang lebih tinggi dengan konsekuensi harga lebih mahal. Itulah salah satu penjelasan yang acap kali diremehkan pasien.
Nurul Falah juga menyampaikan pentingnya tatap muka langsung dengan apoteker. Apoteker tidak boleh meninggalkan tugas jika ada pasien yang membutuhan obat. Setiap apotek, harus ada apotekernya.
"Kalau tidak ada apoteker, apotek tidak boleh melayani pemberian obat resep dokter. Kalau itu dilakukan, kami bisa cabut surat tanda regiater," tegasnya.
Jika surat tanda register dicabut, apoteker tersebut tidak bisa bekerja karena tidak ada apotek yang mau menerima apoteker tanpa sertifikasi kompetensi yang dimiliki. Begitu juga dengan aptek, akan menerima sanksi tegas jika memberi obat resep dokter tidak dilakukan oleh apoteker.