''Dibagian atas kepala masyarakat mengikatkan daun Kitoh itu dikenakan kaum pria dan perempuan,'' sambung Harun.
Senjata pusaka parang dan tombak dalam tari yang dibawakan oleh masyarakat lima suku dan satu suku pendatang itu, lanjut Harun, sudah tidak menggunakan asli dalam arti sudah replika atau senjata yang terbuat dari kayu.
Hal tersebut, sampai dia, untuk menghindari kecelakaan saat tari perang berlangsung. Sebab, kata dia, beberapa waktu lalu masyarakat yang ikut tari perang sempat kesurupan yang diduga kerasukan arwah nenek moyang. Akibatnya, kata dia, salah satu masyarakat menjadi terluka.
''Sejak kejadian itu senjata pusaka tidak digunakan lagi dan disimpan. Senjata pusaka masih ada sekira 100-an lagi,'' ujar Harun, yang mengetuai enak suku di Enggano ini.
Ia menambahkan, alat tiup ''Kamiyu'' yang digunakan dalam tari perang tidak gunakan secara sembarang.