Berbicara masa kini, fesyen muslim semakin menjamur, lalu apa yang membedakan ShafCo dengan yang lain?
ShafCo profesional, kita juga punya manajemen yang baik kita punya manajer, general manajer, direktur, itu orang-orang yang profesional yang sengaja direkrut agar perusahaan ini bagus dan tetap tumbuh dengan baik. Selain itu, kita selalu buat yang baru, makanya per kuartal kita ada model baru terus.
Lalu, Shafco sudah melakukan ekspansi sejauh mana? Apakah ada cabang di luar negeri?
ShafCo fokus di dalam negeri. Kita ingin terus menjaga pasar juga, jangan sampai produk luar negeri justru merajai Tanah Air. Kita ingin fokus karena telah kita ketahui banyak juga brand asing yang jual busana muslim. Untuk di luar negeri kita enggak ada store yang tetap, kalau ada sebuah pameran seperti waktu itu ShafCo pernah ke Eropa dan sempat memiliki gerai resmi di negara tetangga seperti Malaysia.
Dari ShafCo sendiri bisa dilihat tidak, bagaimana kondisi pasar, bagaimana daya beli masyarakat?
Menurut kami, pasar tumbuh tetap, artinya setiap tahun ada saja yang baru pakai hijab dan busana muslim. Tapi enggak ada hubungannya dengan resesi ya. Hanya daya beli masyarakat Indonesia dua tiga tahun ini melemah, karena ekonomi tentunya, bukan karena enggak jadi pakai busana muslim sehingga orang menahan untuk beli busana, kan busana tersier yah. Jadi masyarakat kini lebih mengutamakan makan, pendidikan, rumah, mobil, ditahan untuk posting busana. Jadi pasarnya agak ngerem sih untuk sekarang-sekarang ini.
Terkait dengan kreativitas erat kaitannya dengan selera masyarakat, bagaimana ShafCo melakukan inovasi?
Di ShafCo urusan kreatif kami sangat mewah, kalau brand lain kan cuma satu orang, kita ada tim kreatif sampai 8 orang per cabang bisnis. Karena apa? Kita sadar bahwa kita adalah lokomotif busana mulsim di Indonedia jadi kita harus create terus-menerus. Itu kekuatan sekaligus tantangan buat grup kita.
Untuk tren busana muslim setiap tahun ShafCo punya tema sendiri, kita buat turunan quartal satu, dua dan tiga serta masterpiece per tahunnya. Nah, dari situ kita eksplorasi. Dasarnya tentu di tren warna dan tekstil dunia, kita ada acuannya.