TAK dapat dipungkiri, penyebaran vaksin impor yang tersebar selama ini dapat memenuhi kebutuhan di Indonesia. Menteri Kesehatan RI Prof Nila F Moeloek mengatakan, vaksin buatan lokal belum dapat membantu mencegah penyakit dengan sepenuhnya.
"Sebagian kecil kita tidak bisa menutup semua produk (vaksin) nasional. Jadi, ada yang diimpor," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jalan Rasuna Said, Jakarta Selatan, Rabu (20/7/2016).
Namun, kata dia, kebebasan penggunaan vaksin impor ini hanya boleh di klinik dan rumah sakit swasta. Sementara, pada fasilitas kesehatan milik pemerintah, dilarang menggunakan vaksin impor.
"Rumah sakit pemerintah gak boleh beli (vaksin) yang impor. Karena kita sudah punya program dan sudah cukup," tambahnya.
Pun Menkes Nila mengakui jika harga vaksin impor dapat dibeli dengan harga mahal. "Dan (vaksin) yang impor ini harganya sangat mahal. Saya terus terang mahal, karena anak saya juga ngeluh kok harganya mahal," tambahnya.
Tidak hanya itu, dalihnya orang tua saat memberikan vaksin impor kepada anak, jadi tidak menimbulkan efek samping demam. Tapi Menkes Nila menilai semua ini belum tentu semuanya tepat.
"Padahal sebenarnya panas 38 derajat celcius hanya 20 persen (terjadi) yang punya PT Biofarma. Kalau panasnya 39 derajat 0,5 persen, 40 derajat 0,1 persen. Jadi gak semua panas," terangnya.
Menkes Nila juga mengatakan, jika setelah anak divaksin mengalami demam, dapat diturunkan dengan minum obat penurun panas sesuai dosis tepat. Dia pun mengingatkan, supaya para ibu memberikan sirup paracetamol setelah anaknya divaksin.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.