CIREBON - Masyarakat Kabupaten Cirebon patut mewaspadai wabah penyakit leptospirosis. Penyakit dari bakteri leptospira tersebut ditularkan tikus melalui air seninya. Penyebarannya sangat mudah karena Cirebon termasuk salah satu daerah rawan banjir.
Informasi yang dihimpun KC Online, Rabu (11/5/2016), penanganan lambat pada penderita leptospirosis bisa menyebabkan kematian. Biasanya, penderita mengalami demam tinggi, menggigil, sakit kepala, badan dan wajah menguning, matanya merah.
Namun jika sudah memasuki fase berbahaya, penderita mengalami gangguan kencing, ginjal dan hati serta penurunan kesadaran. Dalam kondisi tersebut butuh penanganan komprehensif.
Demikian disampaikan dokter internship dari Kemenkes RI dr. Annika Famiasti saat memberikan materinya di sela-sela sosialisasi Penanganan Penguatan Asi Ekslusif di Puskesmas Karangsembung.
Ia didampingi tiga dokter internship lainnya yakni dr. Gabriella Graziani, dr. Rita Putri N. Lesmana, dr. Ivana Cintya D.T dan dr. Widiya Wijaya.
Acara tersebut dipandu langsung Kepala Puskesmas Karangsembung, dr. Zainal dihadiri Camat Karangsembung, perwakilan dari Dinkes serta para istri-istri kuwu yang menjadi ketua PKK tingkat desa. Kegiatan soal penguatan asi eksklusif sendiri menindaklanjuti hasil rapat yang dipimpin Ketua Tim PKK Kabupaten Cirebon Hj. Wahyu Tjiptaningsih Sunjaya.
Materi soal pencegahan penyakit leptospirosis sengaja disisipkan dalam acara sosialisasi penguatan asi eksklusif karena di Kabupaten Cirebon sudah ada dua penderita yakni di daerah Plumbon, dan Desa Karangmalang, Kecamatan Karangsembung. Dan leptospirosis sendiri cepat menular melalui kontak fisik. Karenanya, si penderita harus dikarantina untuk mencegah terjadinya penyebaran bakteri penyakit.