SUKABUMI - Puluhan perajin kue simping Kota Sukabumi, kini terancam tinggal kenangan. Ancaman tinggal nama, seiring puluhan perajin makanan ringan renyah di Kelurahan Babakan, Kecamatan Cibeureum, Kota Sukabumi kesulitan untuk mengembangkan usahannya.
Para pengusaha Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terbentur ketidaksedian modal untuk melanjutkan aktiviasnya. Begitupun kenaikan harga bahan pokok yakni tepung terigu kini menyulitkan para perajin mempertahannkan keberadaan kue simping.
Apalagi memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA), keberadaan kue simping dikhawatiran punah. Kue simping terancam tergerus kehadiran makanan siap saji di sejumlah supermarket dan pusat perbelanjaan lainnya.
Padahal makanan renyah itu, sudah cukup lama menjadi salah satu ikon makanan khas Kota Sukabumi. Terutama para wisatawan selalu mencari kue simping untuk oleh-oleh disejumlah tempat perbelanjaan dan kios makanan.
“Selain kue mochi, simping menjadi makanan andalan para perajin rumahan di Kota Sukabumi. Tapi seiring waktu, perajin simping kini terancam bangkrut. Sehingga lambat laun kue simping hanya tinggal kenangan,” kata salah satu pelaku usaha kue Simping, Kelurahan Babakan, Juanda, dikutip PR Online, Rabu (10/2/2016).
Juanda mengatakan keberadaan kue simping tidak hanya terancam tergerus sejumlah makanan yang kini disajikan di supermarket. Tapi karena dipengaruhiberbagai kebijakan pemerintah, menyebabkan eksistensi para perajin kue simping mulai terkikis.
“Perajin simping yang diperkirakan mencapai puluhan orang kini hanya tinggal hitungan jari. Padahal prospek kue simping sangat menjanjikan,” ujarnya.
Juanda mengatakan tidak hanya dampak naik harga Bahan Bakar Minyak (BBM), tapi kenaikan gas elpiji telah memicu harga tepung merangkak naik. Padahal bahan baku tersebut, sangat vital pembuatan kue simping. “Begitupun kenaikan sembako, sangat mempengaruhi harga tepung menjadi latah ikut-ikutan naik,” ucapnya.
Sebenarnya, kata Juanda permintaan kue simping relatif sangat tinggi. Animo masyarakat untuk mengkonsumsi makanan ringan tidak hanya warga Kota Sukabumi. Tetapi permintaan dari sejumlah daerah lainnya. Seperti di Bogor, Jakarta, Bandung, Tangerang dan Surabaya. “Bahkan kue simping sempat menembus sejumlah negara tetangga. Termasuk permintaan dari Saudi Arabia saat musim haji,” tuturnya.
Juanda mengatakan karena terkendala permodalan, produksi simping yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUBE) berbagai permintaan tidak terlayana secara maksimal. Bahan seiring kenaikan sejumlah komoditas, aktivitas perajin kue simping kini hanya terbatas di Kota Sukabumi. “Kami membutuhkan modal untuk mengembangkan usaha. Billa todak segera, kami akan tergerus makanan siap saji yang banyak diminati kaum remaja,” katanya.
Kendati membenaran, kata Juanda, para perajin sempat memperoleh bantuan dari pemerintah. Tapi bantuan dari pemerintah melalui Diskoperindag Kota Sukabumi, relatif masih jauh dari harapan.
“Bantuan KUR maksimal hanya Rp. 20 juta, sementara kebutuhan mencapai dua kali lipat. Kami mengajukan bantuan permodalan dengan jumlah yang lebih besar kepada perbankan tapi dengan agunan,” katanya.
Lurah Babakan, Kecamatan Cibeureum, Yudi Yuliadi mengatakan, akan segera membantu kesulitan warga. Tidak hanya akan memibta bantuan dari pemerintah daerah melalui kucuran kredit KUR, tetai akan mendorong terobosan melalui berbagai perbankan lainnya.
“Kami berusaha membantu apa yang menjadi kendala masyarakat terutama para pelaku perajing kue simping. Termasu mencona memfasilitasi para perajin untuk memperoleh modal usaha,” ujarnya.
(Amril Amarullah (Okezone))
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.