Di sisi lain, Mlenik Maumeriadi selaku Kepala Dinas Pariwisata menyatakan bila Garut memang sangat mengutamakan kebersihan sebab dari sinilah kebersihan akan menjadi keindahan serta membawa dampak pariwisata Indonesia kian dikenal.
"Dengan kebersihan, maka semua akan tercipta keindahan dan itulah motto Garut dalam mengedepankan pariwisatanya," tambahnya.
Membuka keindahan Garut memang kurang afdol bila tak melihat sudut daerah penghasil jaket kulit ternama di Jawa Barat ini.
Budaya
Garut kaya akan budaya, dimana salah satunya terdapat seni dodombaan yakni sebuah tradisi kawin cair atau kawin air, dimana air yang dibawa memakai bambu. Dahulunya cara ini sebagai budaya ritual. Keutuhan budaya ini terus dilakukan di sembilan adat di Garut. Kemudian, air di dalam bambu disatukan atau dikawinkan. Artinya adalah banyak filosofi yang tertuang mulai dari disiplin, kekuatan memegang bambu yang berisi air disimbolkan dengan ketangguhan.
Setelah itu air tadi dibawa ke sumber mata air. Dari sinilah nama Garut itu muncul, dimana nama Garut berarti kakarut. Sejarah penamaan Garut ini muncul tahun 1800, kala itu di daerah Limbangan masih dipimpin Belanda mencari tempat pohon rimbun yang ada durinya ternyata ada air dan ternyata tergores, oleh orang Belanda disebut garut.
Pasalnya di jaman Belanda para kompeni meminta masyarakat untuk membangun saluran air tetapi saat membangun air memiliki goretan di saluran air. Lalu, budaya Garut juga mempunyai lais dimana dua bambu berdiri dengan tinggi 6 meter yang harus dinaiki menggunakan tangga yang terbuat dari golok. Kemudian diatas tidak memakai pengaman dan bergelantungan. Lais itu adalah keterampilan, dimana terdapat magis dan dilakukan turun temurun.