Kemudian, para penculik berhasil masuk dan menembak ke segala arah, sehingga menyebabkan salah seorang anggota keluarga D.I Pandjaitan tewas dan perabotan rumah hancur. Selanjutnya, para penculik memerintahkan Brigjen D.I Pandjaitan turun dan menghadap presiden.
Di bawah todongan senjata, Brigjen D.I Pandjaitan berjalan ke luar rumah mengenakan seragam lengkap. Namun, dalam kondisi yang mencekam tersebut, Brigjen D.I Pandjaitan menyempatkan diri untuk berdoa. Karena mendapat perlakuan kasar dan penghinaan, Brigjen Pandjaitan mencabut pistol dan berusaha melawan. Namun, Brigjen D.I Pandjaitan terlebih dahulu ditembak kepalanya hingga tewas.
Merasa belum puas, tubuh Brigjen D.I Pandjaitan kembali ditembaki oleh para penculik. Kemudian, jenazahnya diseret dan dilemparkan ke atas truk untuk dibawa ke Desa Lubang Buaya.
Penculikan Jenderal Brigadir Jenderal Soetojo
Pada 1 Oktober 1965 dinihari, pasukan penculik berangkat dari Desa Lubang Buaya berkekuatan 1 peleton Resimen Chakrabirawa yang dipimpin Serma Surono. Pasukan ini terbagi dalam tiga regu dengan masing-masing pemimpin, yaitu Serda Soedibjo, Serda Ngatidjo dan Kopda Dasuki dengan tujuan menculik Brigadir Jenderal Soetojo.
Sesampainya di kediaman Brigjen Soetojo di Jalan Sumenep No.17 Jakarta, pasukan penculik langsung menyebar. Brigjen Soetojo terbangun karena mendengar kegaduhan di dalam rumahnya. Kemudian, dari dalam kamar Brigjen Soetojo bertanya identitas mereka dan dijawab tamu dari Malang.
Selanjutnya, pasukan penculik menggedor pintu kamar dan mendesak untuk dibuka. Ketika Brigjen Soetojo membuka pintu, Serda Sudibjo dan Pratu Sumardi masuk dan menyampaikan perintah untuk menghadap presiden. Kedua penculik tersebut langsung mengapit Brigjen Soetojo dan membawanya ke luar untuk dinaikkan ke kendaraan dan langsung menuju Desa Lubang Buaya.
(Johan Sompotan)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.