Ternyata, keluguan masyarakat itu lalu menyebabkan munculnya musibah bagi warga yang mengambil bata-bata tersebut. Selang beberapa saat setelah mengambil bata itu, semua pelakunya jatuh sakit. Pada saat itulah, ada sabda agar bongkahan batu bata tersebut dikembalikan ke tempatnya semula, karena bongkahan-bongkahan itu adalah tempat petapaan maharesi suci Hindu zaman dulu.
Meski belum ada catatan resmi dalam prasasti, masyarakat mempercayai yang malinggih (bertahta) di situs Pura Alas Purwo adalah Empu Bharadah, sosok yang menurut legenda mampu membelah Sungai Brantas dengan kesaktiannya. Selanjutnya, pasca-penemuan, masyarakat setempat lalu menjadi sangat yakin dengan kekuatan dan kesucian situs Alas Purwo tersebut.
“Sampai ada keinginan seorang warga untuk memagari situs itu agar aman dari jangkauan orang jahil. Tetapi, belum sampai tuntas mewujudkan keinginannya, warga tersebut keburu meninggal. Dari kejadian itu didapatkan sabda, kalau situs Alas Purwo itu wajib dipuja semua umat manusia di muka bumi ini tanpa dibatasi sekat-sekat golongan,” sambungnya.
Pihak Dinas Purbakala pun akhirnya berniat menjadikan situs Alas Purwo sebagai benda peninggalan sejarah. Di sisi lain, umat Hindu yang ada di sekitar kawasan tersebut, yang secara turun-temurun mengaku sebagai penganut kebatinan/kejawen untuk alasan keselamatan mereka, sangat menghormati dan merawat dengan seksama situs tersebut.
Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, umat Hindu akhirnya membuatkan sebuah pura, sekitar 65 meter dari situs Alas Purwo saat ini. Ini dilakukan pada 1996, ketika agama Hindu sudah berkembang kembali di tanah air, dan warga setempat yang sebagian besar petani sudah banyak yang beralih menganut agama leluhur mereka, Hindu. Ini dilakukan dengan bantuan umat Hindu Bali. Situs yang ditemukan itu sendiri dibiarkan seperti semula, namun tetap menjadi tempat pemujaan untuk umum, tak terbatas bagi umat Hindu.