“Seorang turis yang pernah menjadi tamu saya mengatakan, view sunrise di sini (Papandayan) lebih bagus dari Gunung Merbabu dan Dieng di Jawa Tengah, bahkan Gunung Batur di Bali,” ujar Asep Sunrise kepada Okezone sambil mengacungkan jempolnya.
Asep adalah warga di kaki Gunung Papandayan. Usianya tak lagi muda, sekira 40 tahun. Untuk urusan mengamati matahari terbit, dia jagonya. Nama “Sunrise” sendiri sebagai julukan karena memang pemandu wisata spesialis matahari terbit.
“Matahari tidak selalu terbit di sisi yang sama, bulan ini bisa di sana, bulan selanjutnya bergeser. Saya selalu mengamati itu,” ungkap pria yang mengatakan hafal tiga bahasa asing yakni Inggris, Prancis, dan Belanda itu. “Hafalnya sih bahasa obrolan. Saya tidak paham aturan grammer. Terpenting tamu paham apa yang saya ucapkan,” tambahnya sambil tertawa.
Gunung ini juga tempat tinggal beragam flora seperti pohon suagi (vaccinium valium), edelweis (anaphalis javanica), puspa (schima walichii), saninten (castanea argentea), pasang (quercus platycorpa), kihujan (engelhardia spicata), jamuju (podocarpus imbricatus), dan manglid (magnolia sp).
Beraneka ragam hewan hidup di sini, di antaranya, babi hutan, tenggiling, kijang, lutung, serta beberapa jenis burung seperti walik dan kutilang. Tak heran, tempat ini menjadi tujuan peneliti.