KOTA Pangandaran sejak tahun 90-an sempat menjadi wilayah epidemi Malaria di Jawa Barat. Mengingat epidemi malaria, mendorong Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan mendirikan Loka Penelitian dan Pengembangan Bersumber Binatang (P2B2) pada 1999, yang kemudian terlahirlah Museum Nyamuk pada 2009.
Seperti namanya, lembaga pelenelitian kesehatan di bawah Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan ini, dibangun sebagai pusat penelitian penyakit bersumber binatang, khususnya nyamuk. Sedangkan pendirian Museum Nyamuk difungsikan sebagai pusat edukasi masyarakat seputar nyamuk.
Museum Nyamuk ini memiliki empat layanan, di antaranya museum, teater, Tompen (Taman Obat Malaria dan Pengusir Nyamuk), serta insektarium. Sekitar 28 spesies nyamuk dari enam genus yang dikumpulkan dari 10 kota di Indonesia disimpan dalam museum ini, di antaranya genus Anopheles, Culex, Carmiceres, Mensoia, Toxorhyncites, dan Aides.
Di museum ini pengunjung dapat melihat banyak bentuk nyamuk yang dekat dengan keseharian manusia, serta melihat langsung bagaimana nyamuk dalam berbagai fase kehidupannya yang dipelihara oleh laboratorium penelitian. Teater dan museum memungkinkan pengunjung mengenal nyamuk secara labgsung lewat audio visual.