Advertisement
Advertisement

Jika si Kecil Bereksperimen Berbahaya

Mom & Kiddie , Jurnalis-Selasa, 17 Desember 2013 |00:16 WIB
Jika si Kecil Bereksperimen Berbahaya
Anak dinasihati (Foto: Google)
A
A
A

APA PUN yang ingin dipelajari oleh anak, apalagi melalui eksperimen-eksperimen “berbahaya” harus selalu dengan pengawasan orangtua. Orangtualah yang bisa menilai kapan perilakunya membahayakan diri dan mana yang masih bisa ditolerir -tentu dengan pengawasan.

Yang menjadi pertimbangan orangtua, misalnya, apakah tempatnya terlalu tinggi, anak sebenarnya mampu atau tidak, kursi yang digunakan sudah rusak atau kurang stabil, benda yang ingin diambil berbahaya/tidak, dan sebagainya. Demikian penjelasan Afia Fitriani, M.Psi dari Seven Consulting Jakarta.

Misalnya, anak ingin mengambil mainannya di atas meja yang sulit diraihnya, bisa saja orangtua mendukung dengan membimbingnya. Bantu anak memilih kursi/pijakan yang aman baginya, tidak membuatnya mudah jatuh, ajari cara naik kursi dengan aman, dan seterusnya. Melalui pengawasan, proses belajar anak akan lebih terarah dan aman.

Namun bila memang berbahaya, kata dia, segeralah bereaksi. Bukan dengan teriakan panik atau kemarahan. Cukup dengan tindakan menariknya dari kursi dan menjauhkan/menyingkirkan kursi yang akan digunakannya untuk memanjat. Setelah itu, anak baru diberikan pengertian atau contoh perilaku yang lebih baik.

“Misalnya, ‘Kalau adik ingin mengambil mainan itu dan gak bisa meraihnya, bilang sama mama. Mama akan bantu mengambilkan’ atau ‘Itu bukan mainan, adik main di sana saja bersama mama ya’, dan lain-lain,” tutupnya.

(Dwi Indah Nurcahyani)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement