DENPASAR - Banyak wisatawan domestik dan mancanegara mengenal patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) sebagai ikon baru Pariwisata Bali. Sayang, hingga kini pembangunannya belum juga terwujud secara sempurna karena berbagai kendala.
Berkat komitmen kuat Nyoman Nuarta, sang arsitek perancang pantung berukuran raksasa itulah, semangat merampungkan bangunan GWK kembali digelorakan. Terlebih dukungan penuh keluarga The Nin King, taipan bisnis yang memiliki kecintaan kuat terhadap budaya Indonesia dan karya anak bangsa, akhirnya semangat menuntaskan pembangunan Taman Budaya GWK yang tersendat kembali menemukan momentum.
Lama mangkrak, kini pembangunannya akan dilanjutkan ditandai peletakan batu pertama pembangunan patung GWK di dalam Kawasan Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana di Desa Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, dimulai 23 Agutus 2013.
"Selama tiga tahun ke depan, secara keseluruhan pemasangan patung ditargetkan rampung," kata Nuarta, optimistis, saat diskusi dan konferensi pers di kawasan GWK, baru-baru ini.
Nuarta menuturkan, 23 tahun lalu dia bersama tokoh lainnya, seperti mantan Menteri Parpostel Joop Ave, mantan Gubernur Bali Ida Bagus Mantra, mantan Menteri Pertambangan IB Sujana dan Ari Bastaman, merintis gagasan perlunya mengenalkan ikon baru bagi Bali selain sebagai destinasi parwisata dunia. Ikon baru itu, selain demi kepentingan pariwisata, juga kebudayaan sehingga bisa memberi nilai tambah lebih besar bagi Bali di mata dunia.
Dalam perkembangannya, pembangunan patung GWK tersendat mulai 1997, ketika Indonesia dihantam badai krisis moneter. Meski telah menghabiskan dana hingga Rp40 miliar lebih, bangunannya belum bisa utuh lengkap seperti yang diharapkan.
Sampailah kemudian, Nuarta bertemu pebisnis nasional papan atas, The Nin King yang mengusung bendera PT Alam Sutra, yang bersedia membantu mewujudkan pembangunan patung dengan dukungan dana cukup besar.
Berinvestasi cukup besar hanya untuk mewujudkan gagasan ideal seperti pembuatan Patung GWK, diakuinya, telah dipertimbangkan matang pihak Alam Sutra. Direktur Utama PT Garuda AdiMatra Indonesia (Gain)—anak usaha Alam Sutra—Harjanto Tirtohadiguno, bahkan siap dengan segala risiko, termasuk merugi sekalipun.
Baginya, bisa membantu mewujudkan Taman Budaya GWK sebagai ikon baru Bali agar bisa lebih dikenal dunia dengan tetap menjaga budaya merupakan komitmennya selama ini. Meski tidak menampik juga untuk kepentingan bisnis, dia menjamin aspek komersialnya tidak akan sampai menghilangkan substansi dari berdirinya Patung GWK.
Pihaknya menjamin tidak akan menghilangkan esensi berdirinya kawasan Taman Budaya GWK. Di atas lahan seluas 60 hektar itulah, pihaknya yakin bisa menempatkan secara benar ruang untuk melindungi kepentingan budaya mana untuk kepentingan komersial.
"Tidak mungkinlah kita bangun fasilitas bangunan lain seperti di Jakarta. Kita juga tidak mungkin meniru seperti di Puket, Thailand, model pariwisata Puket tidak mungkin dipindahkan ke Bali," ujarnya.
Sebagai bentuk komitmennya dalam mewujudkan impian Nuarta, yang alumni Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB) itu, pihaknya telah menyiapkan anggaran hingga Rp450 miliar, di mana Rp300 miliar di antaranya untuk pembangunan patung GWK.
(Fitri Yulianti)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.