ISU pengklaiman budaya oleh Negeri Jiran membuka mata masyarakat untuk senantiasa menjaga adat senantiasa lestari. Upaya ini seperti dilakukan masyarakat adat Batak dalam Pesta Bolon Simbolon.
Mandailing, salah satu marga dalam masyarakat Batak, baru-baru ini meradang dengan keinginan Malaysia untuk mendaftarkan tari Tor-tor dan alat musik Gordang Sambilan ke warisan budaya negara tersebut. Polemik ini bahkan akan dibawa ke tingkat Mahkamah Internasional.
Marga Batak lain, khususnya Simbolon, tentu tidak ingin mengalami hal tidak mengenakkan ini. Maka digelarlah Pesta Bolon, yang akan dimulai Minggu, 1 Juli 2012 hingga Sabtu, 7 Juli 2012.
Pesta Bolon merupakan pesta akbar warga Batak. Pesta yang diadakan setiap lima tahun ini bertujuan melestarikan budaya Batak, adat budaya yang dilindungi oleh negara, selagi masih hidup. Tujuan lainnya sekaligus menggali budaya Batak untuk senantiasa dikenali generasi muda.
"Agar tetap mewarisi budaya yang diwariskan oleh nenek moyang sebagai nilai budaya yang mengatur budaya Batak. Sehingga, semakin utuhlah nilai budaya di semua masyarakat, mulai seni pahat, seni ulos, seni tarian, sampai tenun," jelas Maheran Simbolon, Wakil Ketua Bidang Adat Simbolon di Jakarta, baru-baru ini.
Pesta Bolon Simbolon akan dihelat di dua lokasi; 1-6 Juli 2012 di Lapangan Parkir Timur Senayan dan puncaknya pada 7 Juli 2012 di Stadion Gelora Bung Karno Senayan. Pameran dan bazaar akan berlangsung mulai pukul 11.00 WIB setiap harinya dan akan diramaikan oleh musisi Batak juga artis Ibu Kota. Sementara, acara puncak dimulai pukul 06.00 WIB. Acara ini terbuka bagi warga Ibu Kota, khususnya masyarakat Batak di Jabodetabek, karena dipamerkan pula musik, adat, dan kuliner Batak.
"Kami menggelar Pesta Bolon pada tanggal 7, bulan ketujuh, dan selama tujuh hari. Kami sudah menentukan waktunya lewat adat. Pesta Bolon merupakan tahapan terakhir dari prosesi syukuran selama tujuh hari," jelasnya.
Momen perayaan Pesta Bolon memang ditentukan oleh adat. Proses penentuannya diawali dari Laning-Laning, saat marga Simbolon mengutarakan keinginannya kepada marga serumpun (Parna) untuk mengadakan pesta besar. Parna sendiri merupakan perkumpulan yang berisi 40 marga Batak yang tidak boleh saling menikah. Pertemuan ini membicarakan, menyepakati, hingga merencanakan Pesta Bolon Simbolon yang akan diadakan.
Setelah melewati proses Laning-Laning, giliran Saripeh dijalankan. Hasil kesepakatan yang diperoleh dari Laning-Laning dibawa ke Saripeh untuk meminta masukan lebih banyak peserta sementara Laning-Laning masih dalam lingkup kecil.
Hasil kesepatan pada proses Laning-Laning dan Saripeh kemudian diputuskan hasilnya di Tonggo Raja. Para raja dari berbagai marga ini mengkonfirmasi Pesta Bolon yang akan digelar sehingga tidak saling bentrok dengan pesta budaya Batak lainnya.
Semua proses untuk menentukan waktu Pesta Bolon tersebut dinamakan Sulang Bao. "Tidak semua pesta adat Batak melewati Sulang Bao, hanya untuk tiga jenis pesta; pesta persatuan, kedua pesta monumen, dan pesta-pesta raja. Pesta Bolon sendiri masuk dalam pesta monumen. Selain menghindari bentrok waktu, Sulang Bao ini juga merupakan tanda penghormatan kepada para raja yang nantinya dijamu," tutupnya.
(Fitri Yulianti)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.