SEBELUM memutuskan bercerai, sebaiknya pasangan suami-istri berpikir secara matang. Pasalnya, anak akan mendapatkan dampak besar dari perceraian kedua orangtuanya.
Psikolog Seto Mulyadi mengatakan, sebagai orangtua yang ingin bercerai, hal tersebut sebisa mungkin dikomunikasikan dengan anak.
“Sesegera mungkin ketika akan bercerai dikomunikasikan dulu dengan anak, harus jujur. Dan, tentunya dikomunikasikan dalam bahasa anak. Karena setiap anak kan berbeda,” tutur psikolog yang kerap disapa Kak Seto kepada Okezone melalui sambungan telefon, Selasa (19/6/2012).
“Kalau benar-benar terjadi perceraian, tentunya orangtua harus berani meminta maaf kepada anak untuk mengakui bahwa itu merupakan kesalahan mereka,” jelasnya.
Menurut Kak Seto, sebuah perceraian akan membawa pengaruh yang besar dan tidak bisa dihiraukan begitu saja. “Tentunya ini bisa menjadi suatu trauma bagi anak. Sebab, anak yang biasanya tinggal bersama dengan ayah dan ibunya, melihat mereka bersama, kemudian harus tinggal dengan salah satu dari mereka,” katanya.
Kak Seto mengatakan, meskipun nanti akhirnya bercerai, tentu harus ada pembagian waktu untuk bertemu. Kapan ayah bertemu atau ibu bertemu. Pertemuan-pertemuan itu juga harus teratur. Misalnya, ketika ada rasa kangen anak kepada ayahnya atau ibunya, pertemuan itu tentunya harus dilakukan.
“Jangan ada yang menghalang-halangi, karena semuanya ini kan untuk kepentingan anak. Yang penting, dahulukan kepentingan anak dulu daripada orangtuanya,” tutupnya. (ina)
(Tuty Ocktaviany)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.