Advertisement
Advertisement

Lindungi si Kecil dari Alergi

SINDO , Jurnalis-Senin, 19 Maret 2012 |11:40 WIB
Lindungi si Kecil dari Alergi
Anak terserang flu (Foto: Corbis)
A
A
A

PENINGKATAN kasus anak yang mengalami alergi di Tanah Air tergolong tinggi. Jangan anggap remeh karena akan memengaruhi kualitas kehidupannya kelak. Lalu bagaimana mengatasinya?

Alergi pada anak tidak sesederhana seperti yang kita ketahui. Karenanya, sejumlah besar orang tua masih menganggap enteng alergi pada anak. Sebelumnya memang kita sering mendengar bahwa alergi itu gejalanya adalah batuk, pilek, sesak, dan gatal. Padahal, alergi dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali, mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Jika tak tertangani dengan baik, alergi dapat menimbulkan komplikasi yang cukup berbahaya, termasuk gangguan fungsi otak yang akhirnya mengganggu perkembangan dan perilaku anak.

Dengan ketidakpahaman tersebut, tidak heran jika angka penderita alergi terus meningkat. Berdasarkan data Center for Disease Control and Prevention (CDC), angka kejadian alergi naik tiga kali lipat sejak 1993 hingga 2006. Sementara itu, data World Allergy Organization (WAO) 2011 menunjukkan prevalensi alergi terus meningkat dengan angka 30 persen–40 persen populasi dunia.
 
Di Indonesia sendiri, walaupun belum ada angka pastinya, namun beberapa peneliti memperkirakan bahwa peningkatan kasus alergi di Indonesia mencapai 30 persen per tahunnya.

”Alergi dapat dicegah jika diintervensi sejak dini,” kata DR Dr Zakiudin Munasir SpA(K), pakar alergi-imunologi anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI)-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta dalam talkshow media bertajuk ”Kejadian Alergi Meningkat 3 Kali Lipat! Lindungi Si Kecil” yang diselenggarakan oleh Departemen Medik Ilmu Gizi FKUI-RSCM di Jakarta.

Zakiudin menjelaskan, alergi merupakan reaksi tubuh yang berlebihan terhadap benda asing di sekelilingnya yang disebut alergen, semisal makanan, debu, obat-obatan, dan lainnya. Reaksi alergi terjadi ketika tubuh salah mengartikan zat yang masuk sebagai zat berbahaya. Alergi paling banyak ditemukan pada usia di bawah dua tahun, terutama di bawah tiga bulan. Kebanyakan penderita alergi, terang dia, disebabkan oleh riwayat keluarga, karena umumnya bersifat genetik.

Namun, terlepas dari kedua orangtua tidak memiliki riwayat alergi, bayi tetap memiliki risiko alergi sebesar 5 persen–15 persen. Semakin tinggi manifestasi alergi pada orangtua dan saudara kandung, semakin tinggi pula risiko bayi yang lahir menderita alergi.
 
”Alergi dapat menyerang anak yang memang punya bakat atopik. Makanya, bakat ini jangan dipupuk terus,” ujar Zakiudin.
 
Selain keturunan, lanjut Zakiudin, alergi juga dapat dipicu oleh lingkungan.
Contohnya makanan, zat pengawet, rokok, polusi, aktivitas fisik, debu pada karpet, dan lainnya. Untuk makanan misalnya telur, kacang tanah, susu sapi, atau seafood. Sementara, daging ayam, daging sapi, buah-buahan, dan sayuran jarang menimbulkan alergi.
 
”Sebenarnya,semua makanan dapat menimbulkan alergi, akan tetapi antara satu jenis makanan dan yang lainnya mempunyai derajat alergenitas berbeda,” katanya.
 
Alergi juga disebabkan oleh imunitas, yaitu reaksi menyimpang pada kekebalan tubuh.
Pada anak berusia kurang dari tiga tahun, sebut dia, umumnya adalah alergi yang dicetuskan dari makanan. Sementara pada anak yang lebih besar, biasanya disebabkan karena faktor lingkungan.
 
Zakiudin menyebutkan, jenis-jenis alergi di antaranya asma bronkial atau biasa dikenal dengan bengek. Ada juga rinitis alergika, suatu gejala alergi yang terjadi pada hidung. Jenis lainnya adalah urtikaria (atau bidur, kaligata) merupakan suatu kelainan alergi pada kulit yang berupa bentol berwarna merah disertai rasa gatal.
Sementara, dermatitis atopik yaitu gejala eksim yang mengenai pipi, siku, dan tepi pinggir kulit anggota gerak bawah dan dapat menyebar ke daerah selangkang.
 
Terakhir, jenis konjungtivitis alergika, bentuk kelainan alergi pada mata yang mengenai kedua mata dan terjadi berulang. Gejala penyakit ini berupa gatal kemerahan. Banyak keluar air mata dan penglihatan silau. Kadang-kadang penderita merasa ada sesuatu yang mengganjal pada mata.

Tanda-tanda fisik penderita alergi pada anak, papar dia, adalah adanya garis Dennie-Morgan pada mata. Garis ini berupa lipatan ekstra di kulit di bagian bawah kelopak mata. Atau pembuluh darahnya menebal dan berwarna hitam serta sering menggosok hidung dengan telapak tangan (allergic salute). Kadang juga timbul garis-garis pada bagian depan hidung (allergic crease) dan belang belang seperti peta pada lidah.
 
”Anak yang alergi rentan terkena radang tenggorokan. Karena hidungnya tersumbat, dia sering bernapas melalui mulut. Padahal, mulut tidak punya penyaring kuman seperti bulu di hidung,” ungkap Zakiudin.
 
Bagi anak yang sudah terkena alergi, kata Zakiudin, pengobatan yang dapat dilakukan adalah dengan mengeliminasi makanan alergen dan ganti dengan makanan yang senilai kandungan gizinya. Pencinta seafood dapat mengonsumsi ikan air tawar. Atau penyuka telur dapat menggantinya dengan daging. Selain itu, hindari paparan asap rokok pada ibu hamil dan menyusui.

(Tuty Ocktaviany)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement