Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

UI Bakal Jadi Pusat Social Eco Tourism?

Marieska Harya Virdhani , Jurnalis-Selasa, 18 Oktober 2011 |10:30 WIB
UI Bakal Jadi Pusat Social Eco Tourism?
Jalur Sepeda di tepi danau Kenanga (Marieska Harya Virdhani/okezone.com)
A
A
A

Depok – Universitas Indonesia (UI) terus bersolek mempercantik diri untuk mencapai dan selalu menjadi yang terdepan. Lingkungan serta sarana dan prasarana kampus semakin melaju pesat di masa kepemimpinan Rektor Universitas Indonesia (UI) Gumilar R Somantri, meski seringkali diprotes oleh para mahasiswanya sendiri.

Salah satu perkembangan yang diklaim pihak UI membanggakan adalah berdirinya perpustakaan tercantik dan terbesar di dunia. Perpustakaan pusat milyaran rupiah ini terletak di tepi danau Kenanga UI, salah satu danau dari enam danau di UI dengan pemandangan yang indah dan teduh.

Apalagi saat ini sudah terdapat jalur sepeda (biketrack) di area danau dan perpustakaan UI. Selain diperuntukan bagi mahasiswa, belakangan ini Gumilar juga mengundang dan menggelar kegiatan bersama masyarakat untuk bersepeda santai di jalur sepeda sepanjang 25 kilometer itu.

Rupanya, kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka memenuhi cita – cita Gumilar yakni menjadikan UI terbuka untuk publik sebagai pusat peradaban dan area wisata lingkungan dan sosial atau social eco tourism. Fungsi dan image itu yang sepertinya memang tengah dibangun oleh Gumilar selain kampus sebagai fungsi pendidikan.

Direktur Umum dan Fasilitas UI Donny Donanta mengatakan sejatinya UI memiliki enam danau atau situ dengan nama KAMPUS (Kenanga, Agatis, Mahoni, Puspa, Ulin, dan Salam). Seluruh danau tersebut sengaja dibendung lantaran awalnya merupakan mata air yang kemudian diminta UI menjadi saluran irigasi.

“Danau ini sebenarnya adalah limbah dari Pemkot Depok, awalnya kita minta ada pembagian sejak tahun 1990, akhirnya diberikanlah irigasi itu, yang saat ini sumbernya ada di Pasar Kemirimuka, Depok, ada orang potong ayam atau sapi limbahnya dibuang ke kami, hulunya kan Bogor kalau hujan deras itu meluap, tadinya kita tutup mau balikin lagi alirannya, tapi rumah warga yang banjir,” katanya di Gedung Rektorat UI.

Karena alasan itu, Donny berpendapat UI sebaiknya tidak berlebihan untuk menjadi social eco tourism. Sebab, kata dia, pihak UI saat ini sedang bekerjasama dengan berbagai pakar untuk mengupayakan normalisasi danau – danau tersebut sebagai wilayah resapan air sebelum sampai ke ibukota Jakarta.

“Eco tourism mungkin sebagai pemandangan saja, tetapi kalau sampai warga padat setiap hari duduk – duduk di danau apalagi sampai memancing, itu sudah kami larang, karena sedimentasinya luar biasa tebal, airnya sudah hijau, harus dikembalikan fungsi situ ini agar mengurangi kadar pencemarannya, sejak dua tahun terakhir ini kita enggak tanam bibit ikan karena banyak yang memancing,” tegasnya.

Apalagi, lanjut Donny, air danau tersebut juga sudah tak sehat hingga dapat menyebabkan gatal – gatal. Namun Donny tak menampik bahwa UI ramai dan terbuka setiap saat oleh warga yang ingin berkunjung setiap akhir pekan untuk berolahraga.

“Setiap Sabtu – Minggu UI memang sudah jadi social eco tourism, karena banyak yang bersepeda, jogging, atau jalan santai, tapi kami larang jam 06.00 – 09.00 sepeda motor masuk kampus pada akhir pekan, karena untuk mengurangi polusi, dan masyarakat kan heterogen, sehingga kami mengimbau agar jagalah kebersihan jika mengunjungi UI, jangan buag sampah atau mencoret – coret hingga merusak fasilitas UI, siapapun boleh ke UI asal jaga tata tertib,” paparnya.

Donny mencontohkan manfaat danau UI lainnya yakni dapat digunakan sebagai penelitian hingga pusat latihan Tim SAR. Bahkan ia mencontohkan untuk mempercantik danau UI pihaknya akan menyediakan perahu kano untuk sekedar menambah estetika.

“Saat ini fungsi – fungsi itu terhambat karena alasan – alasan tadi, sehingga bisa dibayangkan kalau dijadikan social eco tourism dan kampus ini jadi ramai masyarakat, nantinya pun kami akan membuat taman yang asri di depan perpustakaan pusat UI,” tandas Donny.

Pantauan Okezone di lapangan, meski di danau Kenanga sudah dilarang bagi warga untuk memancing, namun di enam danau lainnya masih tetap saja banyak warga berjejer menggunakan payung untuk mmancing. Bahkan tak jarang anak – anak kecil memanfaatkan danau di UI untuk berenang.
 
 
 

(Rani Hardjanti)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement