SEGENAP upaya dilakukan untuk mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai kiblat fesyen busana muslim dunia. Berbagai hal juga diukur untuk memperhitungkan kesiapannya.
Wacana Indonesia menjadi kiblat fesyen muslim dunia mulai digaungkan sejak Indonesia Islamic Fashion Fair (IIFF) 2010 oleh Indonesia Islamic Fashion Consortium (IIFC). Ini tentu bukan cita-cita yang jauh panggang dari api, asalkan semua pihak bekerja sama mendukungnya.
Eka Shanty selaku Direktur IIFC mencoba menelisik beberapa kendala di antaranya. Pertama, desainer dan perangkatnya. Eka mengatakan, kreasi desainer busana muslim Indonesia menang dalam ide dibanding desainer negara lain, semisal Turki, Iran, Arab Saudi, Mesir, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Karya yang dipamerkan pada perhelatan IIFF 2011, misalnya, dikatakan Eka selalu menjadi idola ketika dibawa ke berbagai lawatan fesyen luar negeri.
Namun memang, sumber daya yang berhubungan langsung dengan desainer masih perlu diberikan standardisasi yang sama soal kualitas produk, termasuk pemahaman tentang kain, potongan, dan fitting yang menentukan kenyamanan sebuah pakaian. “Masalahnya, sang desainer sekolah, tapi sumber daya manusia di bawahnya, enggak,” katanya ketika ditemui okezone di Central Park Mal, Jakarta, baru-baru ini.
"Di Paris, misalnya, cutting yang lebih dulu diperbaiki. Sementara, kita lebih mementingkan tampilan luar karena orang Indonesia lebih visual. Jadi biar bahannya panas, asal keren, ya dipakai," tukasnya.
Kualitas kain, ditandaskan Eka, juga belum memenuhi standar internasional sehingga banyak desainer masih melakukan pembelian dari luar.
Kedua, permodalan. Eka melihat, ketika eksistensi desainer teruji, karya-karyanya mulai disukai, dan permintaan semakin banyak, mereka akan kesulitan memenuhi lantaran modal yang tidak mencukupi. Dari sinilah muncul kendala ketiga, yakni dukungan perbankan.
"Mestinya perbankan syariah, tapi sampai sekarang belum ada yang mensponsori. Padahal ketika industri fesyen naik, menjadi keniscayaan bagi perbankan syariah untuk berkembang," lugasnya.
Eka memberi gambaran, 2,5 warga muslim Inggris semuanya menjadi nasabah bank syariah. Berbeda dengan Indonesia yang memiliki 200 juta warga muslim, tapi hanya 2,5 persen yang menjadi nasabah bank syariah. Maka tidak mengherankan bila dunia perbankan menobatkan Inggris sebagai negara dengan bank syariah terbaik di dunia.
Pemerintah turut menjadi faktor keempat belum siapnya Indonesia menjadi kiblat fesyen busana muslim dunia. Penentu kebijakan, dikatakan Eka, seharusnya bisa melihat peluang besar pada Ramadan. Ketika kafe dan restoran tidak dikunjungi, butik bisa menjadi destinasi belanja yang menarik.
"Kita ingin acara seperti IIFF ini bisa sebesar Jakarta Great Sale karena sepanjang Ramadan, kita belum punya acara. Mestinya kita bisa membidik orang muslim untuk ke mal. Pada saat Ramadan, kita ingin mal mengatakan bahwa kita adalah kiblat fesyen dunia, tempat berkumpulnya desainer lokal," harapnya seraya mengatakan IIFF belum dapat dihelat serempak di seluruh wilayah Jakarta.
Terakir yang tak kalah penting adalah para model yang membawakan karya desainer di catwalk. Eka bercita-cita, ke depan para model yang terlibat dalam peragaan busana muslim memiliki konsistensi pada apa yang mereka bawakan.
"Kalau sekarang, banyak setelah show, mereka keluar pakai celana pendek. Kami ingin ada konsistensi, ruh busana muslimnya bisa kelihatan ketika mereka di catwalk," tandasnya.
(Fitri Yulianti)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.