Menurut Arifa, penggunaan gadget memang sudah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak. Namun, orang tua dan lingkungan perlu memberikan pilihan aktivitas lain agar anak tidak terus-menerus menghabiskan waktu di depan layar.
“Kita ingin anak-anak ini kan enggak bisa lepas dari gadget, tapi kita harus memberikan alternatif, salah satunya dengan permainan tradisional,” jelasnya.
Menariknya, permainan tradisional yang disediakan dalam festival tak hanya menarik perhatian anak-anak. Sejumlah orang tua juga terlihat ikut mencoba berbagai permainan yang mengingatkan mereka pada masa kecil.
Menteri PPPA menilai antusiasme tersebut menjadi respons positif dari masyarakat. Kegiatan ini sekaligus bisa membangun kesadaran bahwa anak membutuhkan aktivitas fisik dan kesempatan untuk berinteraksi secara langsung.
Ia menyoroti kebiasaan anak yang terlalu banyak menghabiskan waktu di kamar sambil bermain gadget. Melalui permainan tradisional, anak diharapkan lebih aktif menggerakkan tubuh dan tidak hanya terpaku pada layar ponsel.
“Ini artinya responsnya sangat luar biasa, dan mungkin ini juga akhirnya membangun kesadaran masyarakat kita bahwa anak-anak kita harus dilindungi. Salah satu caranya ya mereka harus punya gerakan motorik, bukan hanya mager, malas gerak, di kamar hanya main gadget,” tuturnya.