Kalau kamu tidak mengonsumsi susu sapi, susu kedelai dapat menjadi alternatif sumber kalsium. Beberapa produk susu kedelai diperkaya kalsium sehingga kandungannya lebih tinggi dibanding susu sapi.
Satu cangkir susu kedelai yang telah difortifikasi dapat mengandung hingga 500 mg kalsium atau sekitar 38,5% dari kebutuhan harian. Selain itu, susu kedelai memiliki sekitar delapan gram protein.
Keju parmesan adalah jenis keju yang keras dengan rasa gurih. Keju ini juga menyimpan kalsium yang cukup tinggi. Dalam sekitar 28 gram keju parmesan, terdapat 335 mg kalsium atau 25,7% dari kebutuhan harian.
Dibandingkan sejumlah keju lunak, parmesan juga memiliki kandungan laktosa yang lebih rendah. Karena itu, keju ini bisa jadi pilihan buat kamu yang mengalami intoleransi laktosa.
Seperti jus, banyak sereal juga diperkaya dengan berbagai vitamin dan mineral, termasuk kalsium. Meski begitu, kandungannya bervariasi tergantung pada jenis dan merek. Periksa informasi nilai gizi pada kemasan untuk memastikan kandungannya.
Satu porsi sereal yang telah difortifikasi memiliki sekitar 100–1.000 mg kalsium. Jumlah tersebut setara dengan 10–100% kebutuhan harian.
Susu almond merupakan alternatif minuman nabati yang kerap diperkaya kalsium. Dalam satu cangkir susu almond, kandungan kalsiumnya bisa mencapai sekitar 450 mg.
Jadi, kalau kamu tidak bisa mengonsumsi produk susu dan olahannya, susu almond bisa jadi alternatif. Namun, kandungan protein susu almond biasanya lebih rendah daripada susu sapi atau susu kedelai.
Keju cheddar juga termasuk makanan yang mengandung kalsium tinggi. Dalam dua ons atau sekitar 57 gram keju cheddar, terdapat sekitar 398 mg kalsium atau 30,6% dari kebutuhan harian.
Selain kalsium, keju cheddar menyediakan protein dan vitamin A. Vitamin A dibutuhkan untuk mendukung fungsi penglihatan, sistem kekebalan tubuh, kesehatan reproduksi, serta pertumbuhan dan perkembangan normal.
Tapi, perlu diingat nih, Okezoners. Kandungan kalsium bisa berbeda tergantung jenis bahan, proses pengolahan, dan produk yang dikonsumsi. Karena itu, disarankan untuk mengonsumsi makanan yang bervariasi dan memeriksa label gizi khusus produk fortifikasi.
(Djanti Virantika)