Sejumlah penelitian forensik menunjukkan bahwa jenazah yang ditemukan di perairan dingin dapat berada dalam kondisi relatif lebih baik pada tahap awal dibandingkan jenazah yang berada di perairan hangat.
Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Legal Medicine pada 2002 mengamati sembilan jenazah yang terbawa arus sejauh ratusan kilometer di perairan dingin sekitar Portugal dan Spanyol. Jenazah yang ditemukan dalam minggu pertama masih berada dalam kondisi yang relatif baik, meskipun tanda-tanda awal pembusukan mulai terlihat pada salah satu jenazah yang ditemukan setelah delapan hari.
Sementara itu, dua jenazah yang ditemukan setelah sekitar 20 hari telah mengalami pembusukan berat. Identifikasi akhirnya membutuhkan pemeriksaan DNA atau catatan gigi.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa waktu bukan satu-satunya faktor. Suhu air, jarak yang ditempuh, kondisi tubuh, dan lingkungan laut juga sangat menentukan.
Di perairan yang lebih hangat, proses penguraian dapat berlangsung lebih cepat. Hal ini dibuktikan dari penelitian yang diterbitkan pada 2008. Angka tersebut tidak dapat dijadikan patokan untuk semua kasus. Kondisi setiap jenazah dan lingkungan laut dapat berbeda secara signifikan.
Selain bakteri dan kondisi air, hewan laut juga dapat mempercepat hilangnya jaringan lunak. Di perairan hangat, hiu merupakan salah satu predator yang dapat memanfaatkan tubuh sebagai sumber makanan. Namun, keberadaan hiu tidak berarti setiap jenazah yang berada di laut pasti akan dimakan.
George Burgess, mantan direktur Florida Program for Shark Research di Florida Museum of Natural History, pernah menjelaskan bahwa hiu merupakan predator oportunistis yang dapat memanfaatkan sumber makanan yang tersedia. Suara berfrekuensi rendah akibat kapal tenggelam atau kecelakaan pesawat juga dapat merambat jauh di bawah permukaan air dan berpotensi menarik perhatian hewan laut.
Meski demikian, anggapan bahwa laut selalu dipenuhi hiu yang siap mendekati setiap kecelakaan merupakan gambaran yang tidak akurat.
Selain proses dekomposisi, pencarian jenazah di laut menghadapi tantangan geografis yang sangat besar. Arus laut dapat membawa tubuh menjauh dari lokasi kecelakaan. Angin, gelombang, suhu air, kedalaman, serta kondisi cuaca juga dapat memengaruhi pergerakannya.
Itulah sebabnya proses pencarian korban kecelakaan di laut dapat berlangsung selama berhari-hari atau bahkan lebih lama. Jadi, soal berapa lama jenazah bisa bertahan di laut? Tidak ada batas waktu yang berlaku untuk semua kasus.
Dalam air dingin, proses pembusukan dapat berjalan lebih lambat sehingga jaringan tubuh mungkin bertahan lebih lama. Sebaliknya, air hangat cenderung mempercepat aktivitas mikroorganisme dan proses penguraian.
Keberadaan hewan laut, kedalaman, arus, pakaian, kondisi tubuh sebelum kematian, serta faktor lingkungan lainnya juga dapat memengaruhi proses tersebut.
(Djanti Virantika)