JAKARTA - Dunia politik Peru diwarnai insiden penembakan yang menewaskan Susy Isabel Aponte Polo. Jurnalis sekaligus kandidat gubernur regional tersebut menjadi korban saat menghadiri kegiatan kampanye di Kota Caraz, wilayah barat laut Peru.
Peristiwa penembakan terjadi sekitar pukul 12.40 waktu setempat pada Sabtu. Selain Aponte Polo, seorang pria juga terkena tembakan dan masih menjalani perawatan di rumah sakit.
Aponte Polo sempat dilarikan ke fasilitas medis setelah mengalami luka serius. Namun, nyawanya tidak berhasil diselamatkan dan dia dinyatakan meninggal dunia tidak lama setelah tiba di rumah sakit.
Kepolisian Peru telah mengamankan seorang warga negara Venezuela yang diduga sebagai pelaku. Saat ditangkap, pria tersebut disebut membawa senjata api jenis pistol. Kini, tersangka masih berada dalam tahanan polisi untuk menjalani pemeriksaan.
Sejumlah saksi mata yang dikutip jaringan RPP menyebut penembakan dilakukan dari arah belakang. Pelaku diduga mengarahkan tembakan ke bagian kepala Aponte Polo.
Motif di balik penembakan tersebut masih dalam penyelidikan. Media lokal menyebut adanya dugaan serangan bermotif politik yang berkaitan dengan aktivitas Aponte Polo sebagai jurnalis dan kandidat dalam pemilihan regional.
Sebelum terjun ke dunia politik, Aponte Polo dikenal sebagai jurnalis yang aktif melakukan peliputan investigasi. Ia antara lain menyoroti sejumlah kasus dugaan korupsi yang berkaitan dengan sektor peradilan.
Perempuan yang dikenal dengan julukan "China Polo" itu kemudian memasuki dunia politik dan maju sebagai kandidat Pemerintah Daerah Áncash dari partai Aliansi untuk Kemajuan (APP).
Áncash merupakan salah satu wilayah di barat laut Peru yang berada tidak jauh dari Lima, ibu kota negara tersebut.
Kabar kematian Aponte Polo mendapat kecaman dari sejumlah pihak. Senator progresif Ruth Luque menyebut penembakan tersebut sebagai tindakan yang "sangat serius" dan mendesak agar pihak yang bertanggung jawab segera diidentifikasi.
Dewan Juri Pemilu Nasional (JNE) Peru juga meminta adanya kejelasan mengenai insiden tersebut. Lembaga itu menegaskan pentingnya menjaga proses pemilu agar berlangsung secara damai dan memberikan jaminan keamanan bagi masyarakat.
"Kekerasan tidak memiliki tempat dalam masyarakat demokratis. JNE menolak setiap tindakan yang mengancam kehidupan, integritas, dan keamanan individu," demikian pernyataan resmi lembaga tersebut.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)