JAKARTA - Proses pencarian rombongan jurnalis dan awak KM Arupadhatu I yang hilang saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau masih berlangsung. Salah satu awak kapal, Anak Buah Kapal (ABK) bernama Surakman, telah berhasil diidentifikasi setelah jasadnya ditemukan di perairan Pulau Enggano, Bengkulu.
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri mengidentifikasi jasad tersebut melalui pencocokan data DNA. Polda Banten dan Polda Bengkulu turut berkoordinasi untuk mencocokkan data DNA dari keluarga rombongan kapal yang masih dalam pencarian.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Basarnas Banten, Al Amrad, mengungkapkan tim SAR gabungan masih melakukan penyisiran di sekitar perairan Pulau Enggano, lokasi ditemukannya jasad Surakman.
"Pulau Enggano, sampai hingga saat ini teman-teman dari Bengkulu, dari SAR Bengkulu, itu masih melakukan penyisiran dengan info-info yang kita berikan, dengan pergeseran-pergeseran target yang mengarah ke wilayah Bengkulu dan hingga saat ini belum ada tanda-tanda. Itu tindakan yang saat ini kita lakukan," kata Amrad dalam jumpa pers.
1. Pulau Terluar
Pulau Enggano merupakan salah satu pulau kecil terluar di Indonesia yang terletak di perairan pantai barat Sumatera, Samudra Hindia. Pulau ini merupakan sebuah kecamatan yang berada dalam wilayah Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu.
Pulau Enggano berada di sebelah barat daya Kota Bengkulu dengan koordinat 05° 23′ 21″ LS dan 102° 24′ 40″ BT. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2020, jumlah penduduk Enggano mencapai 4.035 jiwa.
2. Arti Nama Enggano
Pulau Enggano telah lama dikenal oleh masyarakat Melayu dengan sebutan "Pulau Telanjang". Sebutan tersebut berkaitan dengan kebiasaan masyarakat adat Enggano pada masa lalu, ketika laki-laki maupun perempuan bertelanjang dada.
Masyarakat asli Enggano menyebut pulau mereka sebagai "È Loppeh". Dalam bahasa Enggano, istilah tersebut berarti "tanah", "daratan", atau "bumi".
Nama "Enggano" diduga berasal dari bahasa Portugis engano yang berarti "kesalahan" atau "kekecewaan". Nama tersebut kemungkinan diberikan oleh Talesso, seorang pelaut Portugis yang terdampar di pulau tersebut.
Nama itu disebut berkaitan dengan kekecewaan pelaut yang terdampar karena tidak menemukan rempah-rempah seperti yang diharapkan.
3. Memiliki Pulau-Pulau Kecil
Kawasan Enggano memiliki sejumlah pulau kecil, yaitu Pulau Dua, Merbau, dan Bangkai yang terletak di sebelah barat Pulau Enggano, serta Pulau Satu yang berada di sebelah selatan.
Jarak Pulau Enggano ke ibu kota Provinsi Bengkulu sekitar 156 kilometer atau 90 mil laut. Sementara itu, jarak terdekat dengan Kota Manna, Bengkulu Selatan, sekitar 96 kilometer atau 60 mil laut.
Pulau Enggano tersusun atas perbukitan bergelombang lemah, perbukitan karst, daratan, dan rawa. Perbukitan bergelombang terdapat di wilayah tenggara dengan ketinggian antara 170–220 meter. Sementara itu, perbukitan karst dengan ketinggian antara 100–150 meter berada di bagian barat laut. Wilayah tersebut menunjukkan morfologi khas dan didominasi batu gamping.
Di bagian utara, terutama wilayah pantai, terdapat dataran rendah aluvial yang berupa rawa-rawa dengan ketinggian 0–2 meter.
Bentuk permukaan tanah di Pulau Enggano secara umum cukup datar hingga landai, dengan sedikit wilayah yang agak curam. Bagian timur pulau lebih datar dibandingkan bagian barat.
Secara proporsional, sekitar 63,39 persen wilayah pulau memiliki kemiringan landai (0–8 persen), 27,95 persen agak miring (8–15 persen), sedangkan sisanya memiliki kemiringan miring hingga terjal (15–40 persen).
Berdasarkan klasifikasi tanah, kawasan daratan Pulau Enggano didominasi jenis tanah kambisol, litosol, dan aluvial. Selain itu, tanah di Pulau Enggano memiliki tekstur lempung berliat.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)