JAKARTA - Pare jadi sayuran favorit untuk beberapa orang, karena kaya nutrisi dan cukup mudah ditemukan di Indonesia. Sayangnya, rasa pahit yang khas membuat tidak semua orang menyukai sayuran ini.
Padahal, pare memiliki sejumlah kandungan nutrisi. Sayuran ini rendah kalori dan mengandung vitamin C, polifenol, karotenoid, serta berbagai fitokimia.
Lalu, apakah pare sebaiknya dimakan mentah agar kandungan nutrisinya tetap terjaga? Melansir The Standard, ahli gizi Lao Gu mengungkapkan, anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Memasak pare dengan cara yang tepat justru bisa memberikan manfaat tersendiri.
Lao Gu merekomendasikan dua cara memasak pare, yaitu blansir sebentar atau masak dengan cepat dan menumisnya dalam waktu singkat dengan sedikit minyak.
Kedua metode ini dinilai mampu mempertahankan lebih banyak vitamin C yang sensitif terhadap panas. Sebaliknya, pare sebaiknya tidak direbus terlalu lama karena proses pemanasan yang berkepanjangan dapat menyebabkan lebih banyak vitamin C hilang.
Menariknya, proses memasak juga tak selalu berarti membuat semua kandungan pare berkurang.
Memang, pemanasan bisa menurunkan sebagian vitamin C. Namun, proses tersebut juga bisa melepaskan lebih banyak polifenol dan fitokimia sehingga lebih mudah diserap tubuh.
Selain itu, memasak pare juga bisa mengurangi rasa pahitnya. Dengan begitu, pare menjadi lebih mudah dinikmati, terutama bagi orang yang kurang tahan dengan rasa pahitnya.
Pare juga kerap dikaitkan dengan hormon GLP-1 yang berperan dalam pengaturan gula darah dan nafsu makan.
Lao Gu menjelaskan, beberapa senyawa triterpenoid pahit dalam pare diketahui bisa merangsang sel-sel di usus untuk mengeluarkan GLP-1. Namun, bukti mengenai hal ini saat ini masih lebih banyak berasal dari penelitian pada sel dan hewan.
Meski beberapa penelitian pada manusia menunjukkan hasil yang positif, pare tetap tak bisa dianggap sebagai pengganti obat GLP-1 yang diresepkan dokter.
Orang yang sedang mengonsumsi obat untuk menurunkan gula darah juga tak boleh menghentikan obat yang diresepkan hanya karena rutin makan pare.
Selain pare, konsumsi berbagai jenis sayuran tetap penting untuk memenuhi kebutuhan vitamin, mineral, antioksidan, dan serat.
Departemen Kesehatan Hong Kong menyebutkan bahwa sayuran mengandung sejumlah nutrisi, seperti vitamin A dan C, folat, magnesium, serta kalium. Nutrisi tersebut berperan dalam mendukung sistem kekebalan tubuh dan membantu menurunkan risiko sejumlah penyakit kronis, termasuk diabetes, hipertensi, dan penyakit kardiovaskular.
Untuk satu porsi sayuran, ukurannya kurang lebih setara dengan satu mangkuk sayuran berdaun dalam kondisi mentah atau setengah mangkuk sayuran yang sudah dimasak.
Jadi, kalau ingin makan pare, tak perlu memaksakan diri mengonsumsinya mentah hanya karena ingin mempertahankan nutrisinya. Blansir sebentar atau menumis pare dalam waktu singkat dengan sedikit minyak bisa menjadi pilihan. Selain bisa menjaga sebagian kandungan vitamin C, cara ini juga bisa membuat rasa pahit pare lebih mudah diterima.
(Agustina Wulandari )