Meski hasilnya tampak menjanjikan bagi para pencinta game, dokter tersebut mengingatkan masyarakat agar bijak dalam menyikapi temuan ini dan tidak serta-merta menjadikan game sebagai satu-satunya tolok ukur kesehatan otak.
“Tapi ingat, penelitian ini baru asosiasi ya levelnya, bukan sebab akibat. Masih mungkin ada faktor lain yang berpengaruh ke kemampuan kognitif, selain rutinitas main game," tegas dr. Adam.
Artinya, bermain game dapat menjadi salah satu sarana stimulasi mental yang menyenangkan, namun menjaga pola hidup sehat secara menyeluruh tetap menjadi kunci utama kesehatan fungsi otak dalam jangka panjang.
(Djanti Virantika)