JAKARTA - Menghadapi anak tantrum memang bukan perkara mudah. Anak bisa tiba-tiba menangis, berteriak, marah, membanting pintu, bahkan menolak berbicara ketika keinginannya tidak terpenuhi.
Bagi orang tua, situasi seperti ini tentu bisa menguras kesabaran. Tak jarang, respons pertama yang muncul adalah menyuruh anak diam, memarahinya, atau meminta mereka segera mengubah perilakunya.
Melansir The Times of India, psikolog Juli Fraga mengatakan, perilaku tersebut bisa menjadi cara anak menyampaikan emosi yang belum mampu mereka ungkapkan dengan kata-kata. Karena itu, orang tua tak hanya perlu melihat perilaku yang muncul, tetapi juga mencoba memahami perasaan di baliknya.
Berikut lima hal yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu anak membangun kecerdasan emosional.
Saat anak berteriak atau sulit diajak berbicara, orang tua tentu bisa ikut terbawa emosi. Namun, sebelum menghadapi anak, orang tua disarankan menenangkan diri terlebih dahulu.
Salah satu cara sederhana adalah berhenti sejenak dan menarik napas dalam-dalam secara perlahan.
Anak banyak belajar dengan mengamati perilaku orang di sekitarnya. Ketika orang tua mampu tetap tenang dalam situasi yang membuat stres, anak pun mendapat contoh bagaimana menghadapi emosi yang kuat.
Bukan berarti orang tua tidak boleh marah. Yang penting, jangan sampai kemarahan mengendalikan cara kita merespons anak.
Ketika anak berperilaku sulit, orang tua mungkin spontan mengatakan, "Sudah, jangan begitu!" atau "Jangan nakal!"
Memberikan batasan kepada anak memang tetap penting. Namun, orang tua juga bisa mencoba mencari tahu alasan di balik perilaku tersebut. Dengan memahami penyebabnya, orang tua bisa menangani masalah yang sebenarnya, bukan hanya berusaha menghentikan perilaku yang terlihat di permukaan.
Anak terkadang bertindak agresif atau menarik diri karena belum tahu bagaimana menjelaskan apa yang sedang dirasakan.
Misalnya, anak memukul karena marah, berbohong karena takut, atau memilih diam karena merasa terluka.
Orang tua dapat membantu dengan memberikan nama pada emosi tersebut. Coba tanyakan dengan sederhana, "Kamu sedang marah?", "Kamu takut?" atau "Kamu sedih?"
Kebiasaan ini dapat membantu anak mengenali dan memahami emosinya. Dengan begitu, mereka bisa pelan-pelan belajar bahwa perasaan yang tak menyenangkan bisa dibicarakan, bukan selalu dilampiaskan lewat perilaku.
Anak belajar banyak hal dari orang tua, termasuk cara menghadapi emosi. Karena itu, ketika perilaku tertentu terus berulang, orang tua juga bisa melakukan introspeksi. Coba tanyakan kepada diri sendiri, bagaimana biasanya ketika sedang marah atau stres?
Apakah sering berteriak? Memilih diam? Atau justru menghindari pembicaraan mengenai emosi?
Bukan berarti semua perilaku anak merupakan kesalahan orang tua. Namun, melihat kembali kebiasaan diri sendiri dapat membantu orang tua memberikan contoh yang lebih sehat kepada anak dalam menghadapi emosi.
Perubahan perilaku anak juga bisa muncul ketika mereka sedang mengalami stres atau perubahan besar dalam hidup. Misalnya, keluarga baru saja memiliki bayi, pindah rumah, anak masuk sekolah baru, atau sekadar terlalu lelah setelah menjalani aktivitas seharian.
Orang tua dapat menggunakan pendekatan H.A.L.T., yaitu mengecek apakah anak sedang hungry (lapar), angry (marah), lonely (kesepian), atau tired (lelah).
Terkadang, penyebab anak rewel ternyata cukup sederhana. Makan, tidur, beristirahat, atau mendapatkan waktu berdua bersama orang tua bisa membantu anak kembali tenang.
(Agustina Wulandari )