Tidak semua pasangan yang bercerai kemudian terus bermusuhan. Ada pula mantan pasangan yang mampu menjalani kehidupan masing-masing dengan damai.
Bahkan, dalam kondisi tertentu, mereka dapat tetap berkomunikasi dan bekerja sama dengan baik. Utamanya hal ini terjadi jika masih memiliki tanggung jawab bersama terhadap anak.
Hersa menjelaskan, salah satu hal yang membedakan adalah posisi emosional masing-masing pihak dalam menerima berakhirnya hubungan. Pasangan yang dapat menjalani kehidupan setelah perceraian dengan lebih damai umumnya sudah mencapai tahap penerimaan. Mereka memahami bahwa hubungan tersebut memang berakhir karena terdapat perbedaan yang tidak dapat lagi disatukan.
“Mencapai titik penerimaan bahwa kondisinya memang seperti ini, kami memang berbeda, ada value-value yang tidak bisa disatukan,” jelas Hersa
“Jadi yang berbeda itu adalah posisi di perjalanan akhirnya hubungannya, di mana pasangan yang akhirnya sudah bercerai dan akhirnya dengan damai biasanya sudah mencapai titik keduanya itu mendapatkan sebuah penerimaan gitu,” lanjutnya.
“Mencapai titik penerimaan bahwa oke kondisinya tuh memang seperti ini, kami memang berbeda misalnya, ada value-value yang tidak bisa disatukan dan oke gitu. Jadi sudah di tahap yang akhirnya memahami kondisinya seperti apa, kemudian menerima juga kondisinya seperti apa. Keduanya akhirnya ingin oke deh kita melanjutkan kehidupan dengan memahami bahwa kenapa akhirnya kita harus berpisah dan tanpa akhirnya ada emosi yang masih tertinggal gitu,” tutur Hersa.
“Sementara yang mungkin masih akhirnya ada ongoing conflict biasanya mungkin ada isu-isu yang akhirnya masih belum selesai jadi sudah bukan di gimana kita membuat perjalanan ini menjadi perjalanan yang lancar, tapi akhirnya masih berkutik pada siapa yang benar, siapa yang salah, value mana yang akhirnya lebih tepat, mana yang akhirnya perlu berkompromi, mana yang perlu dimenangkan,” sambungnya.
“Jadi seperti itu tuh masih ada di tahap yang akhirnya memperdebatkan siapa yang benar dan siapa yang salah. Biasanya kalau kayak gitu apalagi masih ada emosi-emosi yang tertinggal gitu ya ada ucapan-ucapan yang akhirnya menimbulkan luka, itu kan hal-hal yang akhirnya mungkin masih belum selesai dan akhirnya mempengaruhi di dinamika, interaksi dan pola komunikasinya juga,” tutup Hersa.
Dari penjelasan tersebut, salah satu kunci yang membedakan perceraian yang dapat berlangsung damai dengan high conflict divorce adalah kemampuan kedua pihak untuk menerima kenyataan bahwa hubungan mereka telah berakhir.
Perceraian memang dapat membawa perubahan besar dan tidak selalu mudah dijalani. Namun, ketika kedua pihak mampu menerima kondisi tersebut, memahami alasan perpisahan, serta berhenti berfokus pada pertanyaan mengenai siapa yang paling benar, peluang untuk membangun hubungan pasca-perceraian yang lebih sehat dapat menjadi lebih besar.
Terlebih, bagi pasangan yang memiliki anak, kemampuan mengelola konflik menjadi semakin penting. Meskipun hubungan sebagai suami dan istri telah berakhir, keduanya tetap memiliki peran sebagai orang tua.
Pada akhirnya, perceraian bukan berarti seluruh komunikasi harus berhenti. Yang menjadi tantangan adalah bagaimana kedua pihak dapat mengelola emosi dan konflik sehingga persoalan masa lalu tidak terus terbawa ke dalam kehidupan setelah perpisahan.
(Djanti Virantika)