JAKARTA - Setelah mengantongi dokumen ekspor sejak awal tahun, Pemerintah Prefektur Miyazaki, Jepang, kini secara resmi meluncurkan distribusi daging sapi halalnya di Indonesia. Langkah awal ini lebih menitikberatkan pada pembangunan relasi dengan pelaku industri makanan (F&B) lokal.
Peluncurannya dilakukan secara berangsur, dimulai dari beberapa restoran terpilih dan kelak menyusul ke jalur ritel.
Dalam upaya memperkenalkan produk ini ke konsumen Tanah Air, pemerintah prefektur menyuplai dagingnya terlebih dahulu ke berbagai restoran yang ada di Jakarta pada tahap awal. Di sanalah publik bisa menikmati daging secara langsung dalam tatanan sajian profesional.
Setelah masa pengenalan di jalur F&B ini, pihak berwenang setempat mulai menyiapkan penjualan ritel dalam skala besar. Tahap selanjutnya ini dimaksudkan supaya produknya lebih praktis didapat untuk keperluan masak rumahan.
Cara distribusinya memakai berbagai saluran komersial secara bertahap.
“Untuk tahap awal masuknya, kami tempuh dua cara ini. Yang pertama, sudah pasti masuk ke hotel maupun restoran. Berikutnya, kami akan mencoba menjual secara eceran”, kata Toshiro Hinokuma, Wakil Gubernur Miyazaki, di ajang peluncuran yang digelar di Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Acara tersebut didukung oleh PT Indosps Bogatama Sukses, dan dihadiri oleh pihak-pihak terkait dari sektor pangan dalam negeri.
Agar eksistensi komersialnya bisa bertahan lama di daerah pendatang, dibutuhkan kerja sama dengan mitra lokal. Delegasi dari Jepang terus berupaya membangun ikatan bisnis jangka panjang dengan perusahaan-perusahaan Indonesia. Rencana ini digerakkan sepenuhnya melalui sinergi dengan pelaku industri domestik yang sudah berpengalaman. Pemerintah prefektur sendiri menaruh bobot besar pada terwujudnya kolaborasi yang saling menguntungkan.
“Kami ingin menjalin kerja sama erat dengan pelaku usaha lokal di bidang makanan. Selama kami menjalankan bisnis ini, relasi dengan perusahaan dalam negeri itu penting,” terang Hinokuma.
Sementara itu, demografi Indonesia yang besar membuka peluang bagi produk berlabel halal ini. Keputusan tersebut merespons tren naiknya permintaan bahan premium tersertifikasi di wilayah ini. Pihak prefektur menilai perluasan ini sebagai pijakan penting untuk menjangkau pasar global serupa secara lebih luas.
Di tahun ini, target ekspor permulaan ditetapkan 20 ton. Jumlah kiriman diproyeksikan naik di tahun-tahun mendatang, seiring eratnya jalinan kerja sama dengan mitra lokal.
Mempertahankan standar tinggi menjadi fokus utama dalam ekspansi ini. Semua tahap pengolahan dikerjakan di Jepang sebelum pengiriman, untuk menjamin kesesuaian penuh dengan syarat-syarat halal yang berlaku. Proses penyembelihan dilakukan manual oleh pekerja di rumah potong bersertifikat di Kota Saito. Tempat ini termasuk salah satu dari sejumlah kecil fasilitas di Jepang yang mengantongi izin resmi. Daging diporsi secara lengkap di lokasi tersebut sebelum dikirim ke luar negeri.
Target jangka panjangnya adalah memasukkan produk impor ini ke dalam ekosistem kuliner Indonesia secara lebih meluas melalui upaya kerja sama yang berkelanjutan.
“Acara resepsi ini kami gelar untuk membangun koneksi. Kami ingin berkolaborasi dengan mitra lokal dan semua pihak terkait dalam memperkenalkan produk ini kepada konsumen Indonesia,” pungkas Hinokuma.
(Khafid Mardiyansyah)