JAKARTA – Keinginan untuk berhubungan intim dengan pasangan bisa berubah seiring waktu. Ada kalanya seseorang merasa bergairah, tetapi pada kondisi tertentu justru tidak memiliki keinginan untuk melakukan hubungan seksual. Situasi ini dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi tubuh hingga dinamika hubungan.
Penurunan hasrat seksual atau libido tidak selalu menandakan adanya gangguan. Namun, jika berlangsung cukup lama, muncul secara tiba-tiba, atau mulai memengaruhi hubungan dengan pasangan, kondisi tersebut perlu diperhatikan.
Salah satu faktor yang cukup sering memengaruhi libido adalah tekanan dalam kehidupan sehari-hari. Stres akibat pekerjaan, masalah keuangan, urusan keluarga, hingga persoalan dalam hubungan dapat membuat pikiran sulit rileks, demikian dilansir dari laman bodyandsoul.
Melansir laman bodyandsoul, kelelahan fisik juga dapat membuat seseorang tidak memiliki energi untuk melakukan aktivitas seksual. Kondisi ini terutama dapat terjadi ketika waktu istirahat tidak mencukupi atau seseorang memiliki banyak aktivitas dalam kesehariannya.
Selain faktor psikologis, masalah kesehatan juga dapat berpengaruh terhadap gairah seksual. Diabetes, obesitas, penyakit pembuluh darah, gangguan kesehatan mental, hingga perubahan hormon merupakan beberapa kondisi yang dapat berkaitan dengan perubahan libido.
Penggunaan obat tertentu juga berpotensi memberikan efek samping yang memengaruhi keinginan seksual.
Penurunan gairah seksual sering kali dianggap sama dengan gangguan ereksi. Padahal, keduanya merupakan kondisi yang berbeda.
Libido mengacu pada keinginan seseorang untuk melakukan aktivitas seksual. Sementara itu, disfungsi ereksi merupakan kondisi ketika pria mengalami kesulitan mendapatkan atau mempertahankan ereksi yang cukup untuk melakukan hubungan seksual.
Artinya, seorang pria tetap dapat memiliki keinginan seksual meskipun mengalami gangguan ereksi. Sebaliknya, seseorang bisa memiliki kemampuan ereksi yang baik tetapi sedang tidak memiliki hasrat untuk berhubungan intim.
Perbedaan ini penting dipahami karena penyebab dan penanganan masing-masing kondisi dapat berbeda.
Testosteron sering disebut sebagai salah satu faktor yang memengaruhi gairah seksual pria. Namun, rendahnya libido tidak otomatis berarti kadar testosteron seseorang bermasalah.
Perubahan hasrat seksual dapat dipengaruhi banyak hal, termasuk usia, kesehatan, stres, kualitas hubungan, kondisi psikologis, serta pola hidup.
Seiring bertambahnya usia, respons seksual seseorang juga dapat berubah. Misalnya, gairah atau ereksi mungkin tidak muncul secara spontan seperti ketika masih muda. Kondisi tersebut tidak selalu berarti seseorang kehilangan hasrat seksual.
Jika penurunan libido terjadi terus-menerus, pemeriksaan medis dapat membantu menemukan penyebab yang mendasarinya.
Setiap orang memiliki tingkat gairah seksual yang berbeda. Tidak ada jumlah atau frekuensi hubungan intim tertentu yang bisa dianggap sebagai standar bagi semua pasangan.
Libido dapat berubah berdasarkan usia, kondisi fisik, kesehatan mental, pengalaman, serta situasi dalam hubungan. Bahkan pada orang yang sama, tingkat gairah dapat naik dan turun pada periode berbeda.
Karena itu, yang lebih penting bukan membandingkan frekuensi hubungan seksual dengan orang lain, melainkan memperhatikan apakah perubahan tersebut terasa mengganggu atau berbeda jauh dari kondisi biasanya.
Perubahan tubuh dan hormon pada perempuan juga dapat memengaruhi keinginan untuk berhubungan intim.
Saat hamil, misalnya, libido dapat mengalami perubahan. Setelah melahirkan, rasa lelah, kurang tidur, proses pemulihan tubuh, serta aktivitas menyusui dapat membuat sebagian perempuan mengalami penurunan gairah seksual.
Memasuki masa menopause, perubahan hormon dan berbagai gejala fisik yang menyertainya juga dapat memengaruhi kehidupan seksual. Namun, respons setiap perempuan terhadap perubahan tersebut tidak selalu sama.
Perbedaan libido antara dua orang dalam sebuah hubungan merupakan hal yang mungkin terjadi. Salah satu pasangan bisa lebih sering menginginkan hubungan intim, sementara pasangan lainnya sedang memiliki gairah yang lebih rendah.
Situasi tersebut dapat menimbulkan salah paham jika tidak dibicarakan. Karena itu, komunikasi terbuka menjadi salah satu langkah penting untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan masing-masing.
Pasangan dapat membicarakan perubahan gairah, faktor yang membuat tidak nyaman, hingga bentuk kedekatan yang tetap dapat dilakukan ketika salah satu pihak sedang tidak ingin berhubungan seksual.
Jika masalah tersebut terus berulang dan sulit dibicarakan, pasangan dapat mempertimbangkan bantuan psikolog atau terapis yang memiliki kompetensi dalam menangani persoalan hubungan dan seksual.
Pada akhirnya, rendahnya keinginan untuk berhubungan intim tidak selalu berarti seseorang sudah tidak mencintai pasangannya. Kondisi fisik, mental, hormonal, hingga situasi hubungan dapat memengaruhi libido. Memahami penyebabnya menjadi langkah awal sebelum menentukan solusi yang tepat.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)