Proses pengamatan inilah yang menjadi titik balik pembentukan rasa takut pada anak. Bayi dan balita menyerap sinyal bahaya dari ekspresi, jeritan, atau tindakan panik orang dewasa di dekat mereka, lalu mengaitkannya langsung dengan keberadaan sang reptil.
Terakhir, ia menegaskan bahwa kemampuan mendeteksi keberadaan ular memang hadir lebih awal pada anak, namun rasa takut terhadapnya membutuhkan proses pembelajaran dari lingkungan.
“Kesimpulan, anak memiliki kemampuan mendeteksi ular lebih cepat dan mengasosiasikannya dengan sinyal takut dari orang yang lebih tua. Namun, rasa takut tersebut baru berkembang seiring dengan pengalaman, bukan muncul otomatis sejak lahir,” ungkap dr. Adam.
(Agustina Wulandari )