Meski demikian, dokter Gerrit mengaku tidak terlalu menyarankan prosedur seperti filler atau tanam benang pada usia yang masih muda apabila tidak ada kebutuhan mendesak. Sebab, filler biasanya digunakan untuk memperbaiki kontur dan bentuk wajah, sementara pada usia remaja tubuh masih mengalami proses perkembangan sehingga perubahan alami masih mungkin terjadi.
"Biasanya kalau usia seperti itu, masih bisa dilakukan penyesuaian dari tubuhnya sendiri," ujar dr. Gerrit.
dr. Gerrit menjelaskan bahwa banyak remaja perempuan merasa kurang percaya diri karena bentuk wajah yang dianggap belum ideal, seperti pipi yang terlihat chubby, atau keinginan memiliki wajah lebih tirus dengan bentuk V-shape. Namun, sebelum memilih tindakan estetika, perbaikan pola hidup sebaiknya menjadi langkah utama.
Menurut dokter Gerrit, faktor seperti kualitas tidur, tingkat stres, dan kondisi hormonal memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan kulit, terutama pada perempuan.
"Perempuan itu sangat berpengaruh karena sangat bergantung dengan hormonal. Jadi hormonal pun akan memengaruhi kulit," tutupnya.
(Djanti Virantika)