JAKARTA - Banyak ibu menyusui, terutama yang baru pertama kali memiliki anak, mengeluhkan rasa nyeri saat menyusui. Tak sedikit yang menganggap penyebabnya adalah lidah bayi yang baru lahir terasa "tajam". Namun, benarkah anggapan tersebut?
Dokter Spesialis Anak RS Hermina Serpong, dr. Mutiara Retno Anjani, Sp.A, menjelaskan bahwa secara medis tidak ada istilah lidah bayi yang tajam. Rasa nyeri yang dirasakan ibu umumnya disebabkan oleh posisi pelekatan atau latch on yang belum tepat saat menyusui.
"Kalau ibu merasa menyusui itu sakit atau seperti tertusuk, biasanya bukan karena lidah bayinya tajam, tetapi karena posisi pelekatan mulut bayi ke payudara belum benar," ujar dr. Mutiara.
Menurutnya, kesalahan pelekatan sering terjadi pada masa awal menyusui karena baik ibu maupun bayi masih dalam tahap belajar.
Idealnya, bayi tidak hanya mengisap bagian puting, tetapi juga sebagian besar area areola atau bagian berwarna lebih gelap yang mengelilingi puting. Dengan posisi tersebut, proses menyusu menjadi lebih efektif sekaligus mengurangi risiko puting lecet dan nyeri.
"Yang seharusnya masuk ke mulut bayi adalah areolanya, bukan hanya putingnya. Kalau bayi hanya mengisap puting, ibu akan merasakan nyeri bahkan seperti tertusuk," jelasnya.
Sebaliknya, ketika pelekatan sudah tepat, mulut bayi akan terbuka lebar sehingga areola masuk ke dalam mulut. Lidah bayi kemudian bekerja menekan dan memerah areola, bukan bergesekan langsung dengan puting.
Pada kondisi tersebut, proses menyusui umumnya terasa lebih nyaman bagi ibu dan bayi juga dapat memperoleh ASI dengan lebih optimal.
Dr. Mutiara menambahkan bahwa rasa sakit yang terus-menerus saat menyusui tidak boleh dianggap normal. Jika keluhan berlanjut, ibu disarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau konselor laktasi untuk memperbaiki teknik menyusui.
Dengan demikian, anggapan bahwa lidah bayi baru lahir bersifat tajam tidak memiliki dasar medis. Nyeri saat menyusui lebih sering disebabkan oleh teknik pelekatan yang kurang tepat, sehingga edukasi mengenai posisi menyusui menjadi kunci agar ibu dapat memberikan ASI dengan nyaman dan optimal.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)