JAKARTA - Skoliosis mungkin terdengar seperti masalah kesehatan yang dapat dialami siapa saja. Namun, ketika berbicara mengenai perkembangan kelengkungan tulang belakang yang semakin signifikan, perempuan, terutama pada usia remaja, memiliki risiko yang perlu mendapat perhatian lebih.
Scoliosis Research Society mencatat bahwa adolescent idiopathic scoliosis atau skoliosis idiopatik pada remaja jauh lebih banyak ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki dalam kasus yang berkembang menjadi lebih berat.
Menariknya, skoliosis pada tahap awal sering kali tidak menimbulkan rasa sakit. Karena itu, perubahan pada tubuh bisa berkembang tanpa disadari hingga bentuk bahu, pinggang, atau punggung mulai terlihat tidak simetris.
Salah satu periode yang paling penting dalam perkembangan skoliosis adalah masa pertumbuhan cepat atau growth spurt.
Pada perempuan, fase ini terjadi relatif lebih awal dibandingkan laki-laki dan biasanya berkaitan erat dengan masa pubertas. Tulang belakang yang masih terus bertumbuh memiliki peluang lebih besar untuk mengalami perubahan pada kurva yang sudah terbentuk.
Karena itu, dalam mengevaluasi risiko perkembangan skoliosis pada remaja perempuan, tenaga medis tidak hanya melihat besarnya kelengkungan tulang belakang. Usia, tingkat kematangan tulang, kecepatan pertumbuhan, hingga apakah seorang remaja sudah mengalami menstruasi pertama juga dapat menjadi pertimbangan.
Semakin banyak pertumbuhan tulang yang masih tersisa, semakin besar perhatian yang perlu diberikan terhadap kemungkinan perubahan kurva.
Banyak orang mengira masalah pada tulang belakang pasti ditandai dengan nyeri punggung. Padahal, pada remaja dengan skoliosis, nyeri tidak selalu muncul.
Perubahan justru sering kali pertama kali terlihat dari penampilan fisik.
Misalnya, salah satu bahu terlihat lebih tinggi, satu tulang belikat lebih menonjol, posisi pinggang terlihat tidak seimbang, atau tubuh tampak sedikit condong ke salah satu sisi.
Saat membungkuk ke depan, salah satu sisi punggung atau tulang rusuk juga dapat terlihat lebih tinggi dibandingkan sisi lainnya.
Spine Clinic Family Holistic menjelaskan bahwa beberapa ciri-ciri skoliosis dapat terlihat cukup samar pada tahap awal, sehingga mudah dianggap hanya sebagai perbedaan postur tubuh biasa.
Inilah alasan mengapa orang tua sebaiknya memperhatikan perubahan postur anak perempuan mereka, khususnya menjelang dan selama masa pubertas.
Pertumbuhan tubuh pada usia remaja dapat berlangsung sangat cepat. Dalam periode inilah kurva skoliosis tertentu juga dapat mengalami perkembangan.
Scoliosis Research Society merekomendasikan pemeriksaan skoliosis pada anak perempuan dilakukan sekitar usia 10 dan 12 tahun, sedangkan pada anak laki-laki umumnya dilakukan pada usia 12 hingga 13 tahun.
Bukan berarti setiap perubahan postur merupakan skoliosis. Namun, pemeriksaan lebih awal memberikan kesempatan untuk mengetahui kondisi tulang belakang sebelum kelengkungan menjadi semakin signifikan.
Hal ini penting karena pendekatan terhadap skoliosis tidak hanya ditentukan oleh ada atau tidaknya kelengkungan, tetapi juga berdasarkan besarnya kurva, usia, kematangan tulang, pola kurva, serta kemungkinan kondisi tersebut berkembang.
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah baru melakukan pemeriksaan ketika perubahan bentuk tubuh sudah terlihat jelas. Padahal, skoliosis ringan dapat terlihat sangat subtil.
Saat mengenakan pakaian, misalnya, salah satu tali baju mungkin terasa lebih mudah turun. Bagian bawah pakaian dapat tampak tidak sejajar. Ketika berdiri di depan cermin, posisi bahu atau pinggang juga bisa terlihat sedikit berbeda antara sisi kanan dan kiri.
Perubahan seperti ini tidak otomatis berarti seseorang mengalami skoliosis, tetapi dapat menjadi alasan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Evaluasi biasanya dimulai dengan pemeriksaan fisik. Salah satu metode yang umum digunakan adalah Adam's Forward Bend Test, yaitu pemeriksaan saat seseorang membungkukkan tubuh ke depan untuk melihat adanya asimetri pada punggung.
Jika ditemukan indikasi tertentu, pemeriksaan X-ray dapat digunakan untuk melihat dan mengukur kelengkungan tulang belakang secara lebih akurat.
Mengetahui kondisi tulang belakang lebih awal bukan berarti seseorang pasti membutuhkan tindakan medis tertentu.
Setiap kasus skoliosis berbeda. Pada sebagian orang, kurva mungkin tetap stabil dan hanya membutuhkan pemantauan. Pada kondisi lainnya, terutama ketika seseorang masih berada dalam masa pertumbuhan dan kurva menunjukkan kecenderungan berkembang, tenaga medis dapat mempertimbangkan pendekatan yang berbeda berdasarkan hasil pemeriksaan.
Karena itu, tujuan pemeriksaan dini bukan untuk membuat remaja atau orang tua khawatir, tetapi untuk mengetahui kondisi yang sebenarnya dan memantau perkembangannya secara objektif.
Bagi perempuan, perhatian terhadap kesehatan tulang belakang idealnya dimulai sejak masa pertumbuhan, bukan ketika kelengkungan sudah terlihat jelas.
Perubahan kecil pada bahu, pinggang, atau bentuk punggung yang tampaknya sepele bisa menjadi alasan sederhana untuk lebih memperhatikan kesehatan tulang belakang sejak dini.
(Anindita Trinoviana)