JAKARTA — Pose mengacungkan jempol saat berfoto seolah menjadi "gaya andalan" banyak pria, mulai dari remaja hingga orang dewasa. Kebiasaan ini sering dianggap sekadar spontan atau karena bingung memilih pose. Namun, menurut penjelasan medis, refleks tersebut ternyata berkaitan dengan cara kerja otak, kebiasaan yang terbentuk sejak kecil, hingga faktor psikologis.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Aditya Surya Pratama, dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya mengungkapkan bahwa kebiasaan mengacungkan jempol saat berfoto dipengaruhi oleh beberapa faktor ilmiah.
"Kalian sadar nggak? Kenapa kalau cowok disuruh foto gaya bebas, ujung-ujungnya banyak yang angkat jempol. Jempol lagi, jempol lagi. Padahal nggak disuruh, tapi refleks. Nggak usah bingung karena ini ada ilmu medisnya," kata dr. Aditya.
Ia menjelaskan, salah satu penyebabnya adalah mekanisme default gesture pada otak. Dalam ilmu neuroscience, otak manusia cenderung memilih gerakan yang paling sederhana, familier, dan aman ketika harus mengambil keputusan secara spontan.
"Ini soal default gesture otak. Dalam neuroscience, otak manusia punya kecenderungan memilih gerakan yang paling simpel, familier, dan aman secara sosial. Jempol adalah simbol yang paling mudah dilakukan, nggak perlu banyak mikir, nggak aneh, dan sudah dikenal sebagai tanda positif. Jadi saat bingung mau gaya apa, otak langsung memilih yang paling basic, yaitu jempol," jelasnya.
Alasan berikutnya berkaitan dengan sistem penghargaan (reward system) di otak yang dipengaruhi hormon dopamin. Menurut dr. Aditya, sejak kecil gestur jempol kerap dikaitkan dengan makna positif, seperti tanda "bagus", "setuju", atau "oke". Pengalaman yang terus berulang membentuk respons bawah sadar yang membuat seseorang merasa nyaman saat menggunakan gestur tersebut.
"Gestur jempol sejak kecil diasosiasikan dengan 'oke', 'bagus', dan 'setuju'. Artinya, gestur ini terhubung dengan dopamin atau reward system. Jadi saat seseorang memakai gestur ini, secara tidak sadar dia sedang memberi sinyal, 'Oke, gue aman, santai, dan positif'," tambah dr. Aditya.
Selain itu, faktor psikologi sosial juga berperan. Menurutnya, banyak pria cenderung tidak terbiasa mengekspresikan diri melalui pose yang beragam atau ekspresif ketika berada di depan kamera.
"Banyak pria yang tidak terbiasa mengekspresikan diri lewat pose yang variatif atau ekspresif. Jadi dibandingkan gaya yang dianggap terlalu effort atau kurang maskulin, mereka memilih gestur yang paling simpel, tegas, dan nggak bikin ribet," terangnya.
Di sisi lain, tubuh juga memiliki mekanisme alami untuk merespons rasa canggung ketika difoto. Mengacungkan jempol, memasukkan tangan ke dalam saku, atau menyilangkan tangan merupakan bentuk self-regulation gesture, yaitu gestur bawah sadar yang membantu mengurangi ketegangan.
"Akhirnya muncul gestur otomatis seperti jempol, tangan di saku, atau tangan dilipat. Ini disebut self-regulation gesture, yaitu cara tubuh mengurangi rasa canggung. Jadi kesimpulannya, itu adalah kombinasi dari kebiasaan sejak kecil, sistem reward otak, faktor sosial, dan respons saat canggung," pungkasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)